Senin 19 Juli 2021, 05:00 WIB

Geliat Pembelajaran Hibrida

Khoiruddin Bashori Dewan Pengawas Yayasan Sukma Jakarta | Opini
Geliat Pembelajaran Hibrida

Dok. Pribadi
Khoiruddin Bashori Dewan Pengawas Yayasan Sukma Jakarta

TAHUN ajaran baru biasanya disambut dengan sukacita. Kelas baru, sekolah baru, sahabat baru. Itu dulu. Kini, semua pihak harap-harap cemas. Masuk luring atau tetap daring. Serangan varian delta yang semakin dahsyat telah memaksa pemerintah mengeluarkan kebijakan pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) darurat Jawa-Bali.

Di saat orang masih terkaget-kaget dengan lonjakan pasien covid-19, tiba-tiba ada kabar dari negeri sebelah; telah ditemukan varian lambda di Australia—konon berasal dari Peru—yang jauh lebih mengerikan.

Sebagaimana prediksi para ahli, pandemi tampaknya belum akan segera pergi. Dunia pendidikan, mau tidak mau, harus dapat menyesuaikan diri dengan perkembangan situasi yang semakin sarat ketidakpastian. Harapan banyak pihak untuk segera kembali normal, dapat masuk sekolah seperti sedia kala, hanya menggantang asap. Berangan-angan hampa. Memikirkan yang bukan-bukan, yang tidak mungkin akan tercapai.

 

Pembelajaran hibrida

Survei Balitbang Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan tahun lalu menunjukkan, selama pandemi, kurang dari 50% siswa yang benar-benar belajar dengan baik di rumah. Situasi demikian tentu sangat mengkhawatirkan. Terjadi apa yang oleh para pengamat pendidikan disebut learning loss, penurunan kompetensi belajar siswa. Pada tingkat dasar, learning loss dapat dilihat misalnya pada penurunan tajam kemampuan anak membaca dan berhitung.

Sebenarnya wajar jika selama pandemi hasil belajar siswa belum optimal. Semoga ini hanya merupakan masa transisi menuju merdeka belajar yang sesungguhnya. Siapa pun sudah tidak pada tempatnya untuk berharap dapat sepenuhnya kembali ke sekolah, masuki kelas seperti dahulu. Seandainya masuk, tentu dalam skema blended atau hybrid. Dua istilah yang sering dipertukarkan meskipun sesungguhnya terdapat perbedaan.

Blended learning adalah pembelajaran campuran. Umumnya diterapkan dalam praktik menggunakan pengalaman belajar baik daring maupun in-person (luring) dalam mengajar siswa. Dalam blended-learning, siswa dapat menghadiri kelas yang diajar seorang guru dalam tatanan kelas tradisional, pada saat yang sama juga secara independen menyelesaikan komponen pembelajaran daring di luar kelas. Dalam hal ini waktu di kelas tidak diganti, tetapi ditambah dengan pengalaman belajar daring. Pengalaman belajar daring dan luring saling melengkapi.

Berbeda dengan blended, hybrid learning sangat mengurangi 'waktu duduk' di kelas tradisional dan lebih banyak menggeser pengajaran dan penyampaian pembelajaran secara daring. Dengan kata lain, pembelajaran hibrida merupakan pendekatan pendidikan dengan beberapa individu berpartisipasi secara langsung dan beberapa yang lain melakukannya secara daring. Guru mengajar siswa jarak jauh dan tatap muka secara bersamaan menggunakan teknologi seperti video konferensi.

 

Lima model hibrida 

Spencer (2020) menyarankan lima model pembelajaran hibrida yang dapat dipilih. Pertama, the differentiated model. Di sini siswa di kelas dan di rumah mengikuti pelajaran yang sama secara sinkron. Kedua kelompok berinteraksi satu sama lain sesering mungkin. Siswa di rumah menggunakan teknologi video konferensi untuk mengakses pelajaran. Meskipun pembelajaran berlangsung melalui video, keseluruhan kelas masih berinteraksi bersama. Siswa di kelas bertatap muka secara langsung. Mereka menonton video pembelajaran yang sama dengan kelompok virtual dan berinteraksi dengan yang di rumah.

Kedua, the multi-track model. Pendekatan kedua memperlakukan tiap kelompok sebagai kohort yang sama sekali berbeda meski dalam satu kelas yang sama. Meskipun siswa mempelajari pelajaran yang sama, dengan tujuan yang sama, pada dasarnya mereka hampir seperti kelas terpisah. Pada awal pelajaran, siswa mendaftar untuk pembelajaran jarak jauh sinkron, pembelajaran jarak jauh asinkron, atau jalur tatap muka. Guru kemudian memberi pelajaran, baik untuk yang di rumah maupun yang di kelas, pada hari yang sama. Siswa dapat mengakses modul daring kapan saja, sesuai dengan waktu mereka sendiri.

Ketiga, the split A/B model. Siswa bergantian hari antara belajar di rumah dan di sekolah. Sebagian besar pembelajaran di rumah dilakukan secara asinkron, dengan sedikit kesempatan video konferensi. Siswa di rumah mengerjakan tugas juga asinkron. Siswa dapat menonton video, mendengarkan podcast, atau membaca buku sebagai persiapan masuk kelas. Mereka dapat pula diberi tugas untuk mengerjakan projek tertentu. Waktu di sekolah, siswa dapat manfaatkan kesempatan tatap muka untuk memaksimalkan keterlibatan mereka dalam proyek, bermain peran, melakukan diskusi bermakna, atau mendapatkan bantuan akademik yang ditargetkan guru.

Keempat, the virtual accommodation model. Manakala kelompok yang di rumah kecil (3-4 siswa), mereka dapat berfungsi sebagai kelompok kecil virtual, tetapi dapat bergabung dengan teman-temannya di ruang kelas menggunakan chat video. Siswa berpartisipasi dalam pertemuan yang sama dengan yang di kelas, dengan menggunakan perangkat lunak video konferensi dalam mengakses pembelajaran. Siswa yang hadir di kelas berpartisipasi dalam tatap muka yang khas kelas, tetapi salah satu siswa ditunjuk sebagai penghubung dengan siswa virtual, untuk memastikan bahwa mereka dapat melihat guru.

Kelima, the independent project model. Terkadang aktivitas pembelajaran di kelas tidak terhubung dengan apa yang dapat dilakukan siswa di rumah. Misalnya saja berkaitan dengan kegiatan praktikum di laboratorium yang memerlukan peralatan khusus. Dalam momen seperti ini, guru dapat memilih proyek independen. Siswa dapat mempelajari standar yang sama dan fokus pada target pembelajaran yang sama, tetapi mereka melakukannya dengan cara yang berbeda dengan teman-teman sekelas mereka.

 

Kesiapan guru-siswa

Pembelajaran hibrida biasanya diterapkan dengan menempatkan sebagian siswa di kelas dan sebagian lainnya belajar dari rumah masing-masing. Jika dilakukan secara sinkron, dapat dibayangkan betapa guru harus berbagi perhatian untuk siswa yang di kelas dan yang di rumah. Memang diperlukan keterampilan lebih untuk dapat mempergunakan pembelajaran hibrida, khususnya yang terkait dengan pelajaran-pelajaran eksakta. Kreativitas guru, keberanian untuk keluar dari kebiasaan lama, sangat diperlukan.

Kelas hibrida dapat dilakukan secara asinkron. Menggunakan latihan daring dan video pembelajaran yang telah direkam sebelumnya, untuk mendukung sesi ruang kelas tatap muka. Pembelajaran hibrida yang dilakukan dengan menggabungkan aspek-aspek terbaik pembelajaran langsung dan daring, apabila direncanakan dengan baik, dapat meningkatkan capaian pendidikan bagi lebih banyak siswa. Agar pembelajaran hibrida dapat berhasil dengan baik, format pembelajarannya perlu disesuaikan dengan kesiapan belajar siswa. Oleh karenanya, guru dan siswa harus terus mempersiapkan diri memasuki zaman baru yang serbahibrida.

Baca Juga

A Margana Wartawan, Pegiat Komunikasi Sosial, Anggota Komisi Komsos KWI

Hak Sosial Orang Sakit Menghadapi Mafia Covid-19

👤A Margana Wartawan, Pegiat Komunikasi Sosial, Anggota Komisi Komsos KWI 🕔Rabu 04 Agustus 2021, 05:10 WIB
DI tengah pandemi covid-19, muncul sejumlah mafia. Mereka mengambil kesempatan untuk menangguk untung sebesar-besarnya dari orang sakit...
Anick HT, Penggiat Advokasi Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan. (Dok. youtube)

Gus Menteri dan Baha’i

👤Anick HT Penggiat Advokasi Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan 🕔Rabu 04 Agustus 2021, 05:05 WIB
JIKA Anda bertemu dengan pejabat negara, terutama pejabat Kementerian...
 ANTARA/ Ujang Zaelani

Kepedulian Pengusaha dari Voluntary ke Mandatory

👤Bagong Suyanto, Dekan FISIP Universitas Airlangga 🕔Rabu 04 Agustus 2021, 05:00 WIB
KETIKA pandemi covid-19 tak kunjung tertangani, salah satu masalah serius yang dihadapi pemerintah ialah keterbatasan dana...

E-Paper Media Indonesia

HALAMAN FOKUS EKSTRA 4 HALAMAN

Fokus Edisi

Kenyang Janji dan Pasrah Menunggu Keajaiban

Sejak peristiwa gempa bumi disertai tsunami dan likuefaksi di Palu, Sigi, dan Donggala, Sulawesi Tengah hingga kini masih banyak warga terdampak bencana tinggal di hunian sementara.

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya