Minggu 23 Mei 2021, 05:00 WIB

Keanekaragaman Hayati

Adiyanto Wartawan Media Indonesia | Opini
Keanekaragaman Hayati

MI/Ebet
Adiyanto Wartawan Media Indonesia

DI tempat tinggal saya di Depok, Jawa Barat, kadang sesekali menyelinap anak kadal, belalang, atau kumbang kelapa di pekarangan. Capung juga sesekali hinggap, meski kini sudah relatif jarang. Saya beruntung dapat mengenalkan hewan-hewan itu langsung ke putra-putri saya sehingga mereka tahu wujud spesies tersebut, tidak cuma dari buku atau kanal Youtube. Mereka juga bisa belajar bagaimana hewan-hewan itu berfungsi sebagai rantai makanan bagi mahluk lainnya dalam kehidupan, bukan sebatas menghafal nama (beserta istilah latinnya), yang disampaikan guru biologi.

Namun, saya tidak tahu sampai kapan hewan-hewan ini mampu bertahan. Kian menjamurnya permukiman, menyusutnya area hijau, serta meningkatnya polusi kendaraan, membuat habitat sejumlah satwa itu kini semakin terdesak. Persoalan ini tidak hanya terjadi di Indonesia melainkan juga di belahan dunia lain.

Masalah biodiversity atau keanekaragaman hayati yang semakin terancam, memang kini menjadi konsern para pemerhati lingkungan, terutama seiring dengan meningkatnya ancaman perubahan iklim. Keanekaragaman hayati tentu saja bukan cuma hewan, melainkan juga tanaman, hingga mikro organisme, baik di darat maupun dasar lautan.

Pertengahan November tahun lalu, digelar konferensi internasional tentang keanekaragaman hayati bertema Sustainable use of plant, animal and microbial for advancing human welfare and nature conservation. Dalam konferensi yang digelar secara virtual itu dibahas lima topik utama yaitu, keanekaragaman hayati dan konservasi sumber daya alam, pemanfaatan keanekaragaman hayati untuk kesehatan dan kesejahteraan manusia, bioprospeksi sumber daya alam, aplikasi genom untuk mempromosikan penggunaan sumber daya alam yang berkelanjutan, serta bioteknologi dan bioteknologi untuk bioproduk.

“Melalui konferensi internasional ini, kami berharap dapat bertukar ilmu, pengalaman dan hasil penelitian untuk menjamin penggunaan keanekaragaman hayati yang berkelanjutan bagi kita dan generasi di masa depan,” ujar Deputi Bidang Ilmu Pengetahuan Hayati, Yan Rianto, dalam laman resmi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) menyambut konferensi itu.

Menurut LIPI, Indonesia merupakan negara yang memiliki keanekaragaman hayati terbanyak di dunia setelah Brasil. Seperti diketahui, hampir semua barang dan makanan yang digunakan manusia berasal dari makhluk hidup, baik tumbuhan, hewan, maupun mikroorganisme, sehingga keanekaragaman hayati sangat bermanfaat bagi kesejahteraan hidup manusia. Keanekaragaman hayati juga berfungsi menjaga keseimbangan ekosistem. Pertanyaannya, apakah masyarakat di negeri ini sadar dan peduli tentang semua ini?

Kemarin, masyarakat dunia memeringati Hari Keanekaragaman Hayati (Biodiversity Day) 2021 yang bertema We’re part of the solution #ForNature (Kami adalah bagian dari solusi #ForNature). Nah, peringatan ini seharusnya bisa jadi momentum untuk mengenalkan lagi ragam kekayaan flora dan fauna yang ada di negara ini, terutama di kalangan generasi muda. Jangan mereka malah dijejali cerita-cerita tentang babi ngepet, jenglot, dan sejenisnya.


 

Baca Juga

Dok pribadi

Menelisik Roadmap Reforma Agraria

👤Usep Setiawan, Tenaga Ahli Utama di Kantor Staf Presiden Republik Indonesia.  🕔Kamis 23 September 2021, 12:10 WIB
Presiden Jokowi (29/5/20), meminta percepatan Program Strategis Nasional yang berdampak langsung bagi pemerataan dan penguatan ekonomi...
MI/Susanto

Anatomi Pindah Ibu Kota

👤Guntur Soekarno Pemerhati Sosial 🕔Kamis 23 September 2021, 05:05 WIB
SEPANJANG sejarah Republik Indonesia, pindahnya ibu kota negara, baru sekali yaitu ke Yogyakarta pada tahun 1946, tanggal 3...
MI/Seno

Ancaman itu Bernama Cuaca Ekstrem dan Perubahan Iklim

👤Dwikorita Karnawati Kepala BMKG 🕔Kamis 23 September 2021, 05:00 WIB
Tidak jarang, fenomena iklim yang ada di Indonesia adalah imbas dari fenomena yang terjadi di belahan bumi...

E-Paper Media Indonesia

HALAMAN FOKUS EKSTRA 4 HALAMAN

Fokus Edisi

Sarjana di Tengah Era Disrupsi

Toga kesarjanaan sebagai simbol bahwa seseorang memiliki gelar akademik yang tinggi akan menjadi sia-sia jika tidak bermanfaat bagi diri dan orang banyak di era yang cepat berubah ini.

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya