Rabu 14 Juni 2017, 00:02 WIB

Muslim Bertanggung Jawab Memerangi Teror

Fethullah Gulen Ulama Turki, tinggal di Amerika | Opini
Muslim Bertanggung Jawab Memerangi Teror

thinkstock

SERANGAN brutal dan mematikan di London dan Manchester terhadap warga sipil yang tidak berdosa merupakan yang terbaru dalam serangkaian tindakan kekerasan yang dilakukan kelompok yang dirujuk sebagai Islamic State (IS), kelompok yang tidak pantas disebut yang lain selain penjahat dunia yang paling tidak manusiawi. Sebagai tanggapan atas ancaman ini, umat Islam dunia harus membantu intelijen dan pihak keamanan melawan serangan dan menghilangkan ancaman ini. Dari awal berdirinya, yakni sisa-sisa Al Qaeda di Irak, IS telah melakukan penipuan yang menimbulkan kematian. Meski memakai nama Islam, IS me­nyimpang dari agama. Pakaian, bendera, dan slogan kelompok itu tidak dapat menyembunyikan pengkhianatan mereka terhadap semangat kepercayaan terbesar di dunia ini.

Menolak kelompok barbar ini merupakan tujuan utama yang harus didukung semua umat Islam, dan tidak hanya harus dihadapi militer. IS dan kelompok-kelompok lain yang serupa merekrut pemuda-pemuda Muslim yang terasing dengan menawarkan tujuan palsu dalam pelayanan ideologi secara total. Untuk menangkal daya tarik tersebut, dibutuhkan upaya keagamaan, politik, psikososial, dan ekonomi. Ini mengharuskan masyarakat lokal dan institusi pemerintah menangani masalah struktural seperti diskriminasi dan pengucilan.

Organisasi internasional harus melindungi warga negara dari penganiayaan seperti yang kita saksikan di Suriah dan membantu transisi menuju pemerintahan yang demokratis. Pemerintah Barat juga memiliki tanggung jawab untuk mengadopsi kebijakan luar negeri yang lebih etis dan konsisten. Warga negara dan organisasi muslim harus menjadi bagian dari usaha yang lebih luas ini. Namun, kita juga memiliki peran dan tanggung jawab dalam pertarungan ini. Di seluruh dunia, umat Islam perlu memperkuat sistem kekebalan masyarakatnya, terutama kaum muda untuk melawan ekstremisme. Kita harus bertanya: Bagaimana masyarakat kita bisa menjadi pusat perekrutan teroris? Ya faktor eksternal harus diatasi, tapi kita juga harus melihat penyebabnya di dalam negeri.

Menelaah diri merupakan etika Islam. Ada tindakan yang bisa kita ambil, sebagai orangtua, guru, pemimpin komunitas dan imam muslim, untuk membantu kaum muda, kita harus melindungi mereka. Kita harus mengalahkan ekstremis ini di medan perang atau perang gagasan. Sebuah kekeliruan dari ideolog ekstrem kekerasan ialah mendekontekstualisasi ajaran Alquran dan Nabi SAW, dan menafsirkannya sesuai tujuan yang mereka tentukan. Para ideolog ini mengubah kehidupan ke­lompoknya menjadi instrumen untuk membenarkan tindakan kriminal.

Penangkalnya ialah pendidikan agama yang mengajarkan tradisi secara holistik dan kontekstual. Untuk dapat melawan tipu muslihat ideolog radikal, kaum muda muslim harus memahami semangat Alquran dan prinsip-prinsip menyeluruh tentang kehidupan Nabi mereka. Kita perlu menyampaikan kepada generasi muda cerita lengkap tentang bagaimana Nabi mengubah masyarakat dari zaman jahiliah ke dalam norma-norma etika yang dianut oleh Nabi Ibrahim. Pendidikan agama holistik harus dimulai dengan komitmen terhadap martabat setiap orang sebagai ciptaan Tuhan yang unik. Terlepas dari kepercayaannya. Allah berfirman, “Kami telah menghormati anak-cucu Adam” (QS Al-Isra’:70), semua manusia dihormati. Alquran mengajarkan bahwa membunuh satu nyawa tidak bersalah sebagai kejahatan terhadap semua umat manusia (QS Al-Ma’idah:32). Bahkan dalam perang perlawanan yang sah, ajaran Nabi Muhammad meng­ajarkan secara khusus melarang kekerasan terhadap warga sipil, khususnya perempuan, anak-anak, dan pemuka agama. Keyakinan bahwa seseorang bisa masuk surga dengan membunuh orang lain ialah khayalan belaka.

Pelaku kekerasan juga melakukan transplantasi vonis religius dari abad pertengahan ke dalam abad ke-21, ketika pertarungan politik sering dicampuradukkan dengan perbedaan agama. Saat ini, umat Islam memiliki kebebasan untuk mempraktikkan agama mereka di negara-negara yang demokratis dan sekuler. Nilai-nilai pemerintah sejalan dengan cita-cita muslim tentang keadilan sosial, aturan hukum, pengambilan keputusan bersama dan kesetaraan. Umat Muslim bisa hidup sebagai warga negara demokrasi yang berkontribusi ke seluruh dunia. Secara proaktif, kita harus mengembangkan cara positif untuk memenuhi kebutuhan sosial generasi muda kita. Kelompok-kelompok pemuda harus didorong untuk menjadi sukarelawan dalam proyek bantuan kemanusiaan guna membantu korban bencana dan konflik kekerasan.

Dalam mengajari mereka untuk membantu orang lain, kita akan memberi mereka alat untuk memberdayakan diri dan mereka merupakan bagian dari sesuatu yang berarti. Kami juga memiliki kewajiban untuk membantu mereka terlibat dalam dialog antaragama untuk memelihara saling pengertian dan rasa saling menghormati. Sebagai umat Islam, kita bukan hanya anggota komunitas iman, tapi juga bagian dari umat manusia keseluruhan. Sejak 1970-an, para peserta gerak­an sosial Hizmet-istilah Turki untuk pelayanan-telah mendirikan lebih dari 1.000 sekolah sekuler modern, pusat bimbingan belajar gratis, perguruan tinggi, rumah sakit, dan organisasi bantuan kemanusiaan di lebih dari 150 negara. Dengan memfasilitasi keterlibatan siswa dan profesional sebagai penyedia layanan, mentor, tutor dan pembantu, institusi, dan jejaring sosial mereka mengembangkan rasa identitas, memiliki, makna dan pemberdayaan sebagai upaya menangkal janji-janji palsu kekerasan.

Memang, cara terbaik untuk melindungi kaum muda secara proaktif ialah memberi mereka narasi kontrapositif. Dengan menawarkan kesempatan untuk belajar bahasa dan pertukaran budaya, institusi semacam ini memelihara pandang­an pluralistik, pemikiran kritis, dan empati. Sebagai bagian dari ritual sehari-hari mereka, Islam mempraktikkan cara berdoa agar Allah melindungi mereka ‘di jalan yang lurus’. Hari ini, jalan lurus berarti menelaah pemahaman kita tentang nilai-nilai inti iman kita. Bagaimana kita mewujudkan nilai-nilai itu dalam kehidupan kita sehari-hari, dan memperkuat keta­hanan pemuda muslim dalam melawan pe­ngaruh yang bertentangan dengan nilai-nilai Islam tersebut.

Menjadi bagian dari upaya di seluruh dunia untuk membantu menghentikan radikalisme bermotif keagamaan supaya tidak terulang kembali seperti di London, Manchester dan di tempat-tempat lain merupakan tanggung jawab semua manusia dan semua agama.

Baca Juga

Ilustrasi Bencana Alam

Bencana, Teologi Kemaslahatan, dan Kemanusiaan

👤Har Yansen Teolog Kontekstual STFK Ledalero-Maumere 🕔Jumat 22 Januari 2021, 00:50 WIB
SEPERTI 'Editorial' Media Indonesia (11/1), Indonesia menghadapi duka kemanusiaan. Sejumlah kabar duka dan bencana alam terjadi di...
Dok.unair.ac.id

Perpres No 7/2021 dan Upaya Meredam Ekstremisme

👤Bagong Suyanto Dekan dan Guru Besar FISIP Universitas Airlangga 🕔Jumat 22 Januari 2021, 00:15 WIB
EKSTREMISME berbasis kekerasan ialah ancaman serius yang dihadapi bangsa...
Dok. Pribadi

Cegah Stunting untuk Indonesia Emas

👤Sumarjati Arjoso Dewan Kehormatan DPP Kaukus Perempuan Politik Indonesia (KPPI) 🕔Kamis 21 Januari 2021, 05:10 WIB
25 tahun jelang 100 tahun Indonesia Emas pada 2045. Pada saat itu diharapkan telah tercapai cita-cita dan amanat pendiri bangsa: Indonesia...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya