Selasa 03 Maret 2015, 00:00 WIB

Hari ini Panti dan Petir Hidup Bebas

Richaldo Y Hariandja/X-5 | Nusantara
Hari ini Panti dan Petir Hidup Bebas

MI/Ramdani

 
TAMBLING Wildlife Nature Conservation (TWNC) di Lampung, menurut rencana, hari ini akan kembali melepasliarkan dua harimau sumatra (Panthera tigris sumatrae) di Taman Nasional Bukit Barisan Bagian Selatan (TNBBS).

Dua hewan yang akan menikmati habitat alami mereka itu bernama Panti dan Petir, induk dan anaknya.

Kedua hewan dilindungi itu dinilai layak kembali ke alam liar karena, menurut tim pemantau, telah memenuhi tiga faktor utama.

Tiga hal itu ialah kesehatan, kemampuan berburu, dan perilaku saat bertemu manusia.

Dari sisi kesehatan, Panti dan Petir tidak mengidap penyakit.

Lebih dari itu, organ reproduksi mereka sehat. Aspek kedua, kemampuan berburu sangat baik.

Umumnya proses berburu memakan waktu sekitar 13 menit, mulai mencium bau buruan, mengintai, dan kemudian menerkam.

"Tapi yang paling penting dari harimau ini ialah sifatnya yang elegan. Ia memastikan buruan bersih sebelum disantap," ujar Bongot Huaso Mulia, dokter hewan Taman Safari Indonesia (TSI) yang bertugas di TWNC, kemarin.

Satu hal lainnya yang diperhatikan ialah perilakunya. Diharapkan, ketika dilepasliarkan Panti dan Petir tidak akan menyerang manusia.

Hal itu bukanlah sifat alami dari hewan tersebut.

Perilaku harimau sebenarnya saat bertemu manusia cenderung menghindar.

"Selama ini kasus harimau yang memangsa manusia sebenarnya disebabkan kelainan pada harimau. Biasanya, gigi atau kukunya tidak normal," ucap Bongot.

Untuk pelepasliaran kali ini, Panti dan Petir memiliki kasus istimewa. Panti pernah dilepas pada 2010 dan kembali masuk rehabilitasi karena banyak ditemukan luka di sekujur badannya.

Bagi Petir, itu merupakan awal kehidupannya di alam bebas.

Petir, bersama dua saudaranya, sejak lahir hingga besar berada di dalam rescue centre.

Pelepasliaran harimau merupakan tujuan utama rehabilitasi di TWNC. Tindakan hari ini paling tidak sudah yang ketiga kalinya.

Pada 2008, TWNC melepas dua harimau ke habitatnya.

Dua tahun berikutnya, dua hewan belang lagi dikembalikan ke alam bebas.

Menurut Bongot, harimau ialah predator utama mata rantai makanan.

"Harimau mengurangi herbivora sehingga rumput dan pohon di kawasan ini akan terjaga."

Baca Juga

Medcom

Empat Kasus Kekerasan terhadap Pers Terjadi di Sumut Sebulan Terakhir

👤Yoseph Pencawan 🕔Selasa 22 Juni 2021, 22:58 WIB
Sebelum kasus pembunuhan Marsal, pada 29 Mei 2021 rumah seorang jurnalis bernama Abdul Kohar Lubis di Kota Pematangsiantar diteror...
DOK

Apps Sumut Bersinar, Cara Baru Polda Sumut Perangi Marak Narkoba

👤 Yoseph Pencawan 🕔Selasa 22 Juni 2021, 22:50 WIB
Adalah AKBP Fadris SR Lana, Kasubdit III Ditres Narkoba Polda Sumut, yang menjadi sosok sentral di balik aplikasi...
DOK

Proses Hukum Kasus Narkoba Sekda Nias Utara Diminta tetap Berjalan

👤Yoseph Pencawan 🕔Selasa 22 Juni 2021, 22:40 WIB
Sebagai ASN tertinggi di Nias Utara seharusnya Yafeti menjadi teladan bagi masyarakatnya. Bukan malah melakukan tindakan tidak...

E-Paper Media Indonesia

HALAMAN FOKUS EKSTRA 4 HALAMAN

Fokus Edisi

Kereta Api Makassar-Parepare Membangun Ekonomi dan Peradaban

Belanda pernah membuat jalur kereta api Makassar-Takalar, namun sejak Jepang berkuasa jalur itu dibongkar. Dan baru era sekarang, Sulawesi Selatan kembali memiliki jalur  kereta api

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya