Headline
Istana minta Polri jaga situasi kondusif.
SEJUMLAH perbukitan yang menghampar seluas 194 hektare (ha) di aliran Sungai Noel Puamas kini terlihat menyatu karena pembangunan Bendungan Raknamo. Saban hari, sebanyak 400 pekerja yang terbagi dalam dua shift bahu-membahu mengebut pembangunan bendungan di Desa Raknamo, Kecamatan Amabi Oefeto Timur, Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT). Mereka bekerja sampai pukul 22.00 Wita demi memenuhi target penyelesaian pekerjaan yang dijadwalkan Juli 2017, atau lebih cepat satu tahun dari jadwal semula 2018. Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PU-Pera) Basuki Hadimuljono mengatakan, sampai Agustus 2016, progres pembangunan Bendungan Raknamo telah mencapai 54%. Percepatan pembangunan Raknamo atas perintah Presiden Joko Widodo untuk mempercepat penuntasan masalah air baku dan air untuk irigasi pertanian.
"Kita melakukan percepatan dengan dua shift dan juga anggaran yang cukup memadai. Sesuai perintah Presiden, khususnya di NTT, masalah air harus segera diatasi," kata Basuki beberapa waktu lalu di Raknamo. Setelah beroperasi tahun depan, Raknamo akan menyuplai air baku 100 liter per detik. Selain itu, lahan tadah hujan seluas 1.250 ha di empat desa, yakni Raknamo, Manusak, Naibonat, dan Amabi Oefeto bakal diolah sepanjang tahun dengan memanfaatkan air dari bendungan. Paling tidak, pembangunan Bendungan Raknamo yang menelan anggaran Rp750 miliar menjadi langkah awal mengatasi krisis air selama bertahun-tahun. Manfaat lain ialah untuk pengendalian banjir di daerah hilir Kota Kupang, pengembangan pariwisata, dan pembangkit listrik tenaga mikro 0,22 Mw. Raknamo ialah bendungan pertama dari tujuh bendungan yang dibangun sampai 2019. Bendungan kedua dengan nama Rotiklot dibangun di Desa Fatuketi, Kecamatan Kakuluk Mesak, Kabupaten Belu. Bendungan Rotiklot dibangun dengan anggaran Rp450 miliar, juga dipercepat satu tahun. Bendungan ini mampu menampung air sebanyak 2,67 juta meter kubik dijadwalkan rampung bertepatan dengan HUT ke-72 Kemerdekaan RI, 17 Agustus 2017.
Rotiklot juga menyiapkan air baku 40 liter per detik serta air bagi 639 ha lahan sawah dan palawija di desa-desa sekitarnya, juga penyediaan listrik 0,15 Mw, dan mengurangi debit banjir sampai 500 meter kubik per detik. Sebenarnya, NTT telah memiliki satu bendungan raksana bernama Tilong di wilayah Kabupaten Kupang yang dibangun di masa Pemerintahan Presiden Megawati Soekarnoputri. Tilong mengairi ratusan lahan pertanian serta menyiapkan air baku bagi warga Kota Kupang.
Potensi Air
Pembangunan bendungan bertolak dari iklim Nusa Tenggara Timur yang tergolong semi-arid (tropis kering) dengan rata-rata curah hujan berkisar 800-3.000 milimeter per tahun. Hujan turun mulai Desember-Maret dengan intensitas tinggi dengan durasi hujan pendek menimbulkan banjir. Kepala Dinas Pekerjaan Umum (PU) NTT, Andre Koreh mengatakan, selama periode hujan, potensi air yang seharusnya bisa ditampung mencapai 18 miliar meter kubik. Angka itu lebih tinggi dari kebutuhan air baku 2 miliar meter kubik per tahun. Lantaran tidak ada wadah untuk menampung air hujan, air terus terus mengalir ke laut. Di sisi lain, Bendungan Tilong hanya mampu menampung 539 juta meter kubik air per tahun, yang mengakibatkan NTT mengalami defisit air mencapai 1,5 miliar meter kubik per tahun. "Untuk mengatasi defisit air ini, NTT membutuhkan 70 bendungan, 4.000 embung kecil, 100 embung irigasi, dan 3.000 sumur bor," kata Andre.
Di sisi lain, sesuai standar pelayanan minimal (SPM) bidang sumber daya air, daerah mesti membangun sekitar 2.700 embung atau 540 embung per tahun selama lima tahun. Target itu bertolak belakang dengan alokasi anggaran pemerintah provinsi, ternyata hanya mampu mendanai pembangunan empat embung per tahun. Lantaran itu, penuntasan masalah kekeringan berjalan lambat. Pada tingkat itu, Andre berharap kebijakan alokasi Dana Alokasi Umum (DAU) dan Dana Alokasi Khusus (DAK) memperhatikan provinsi yang berciri kepulauan tersebut. Menurutnya, peningkatan anggaran untuk pembangunan infrastruktur akan berdampak positif untuk penyediaan pangan di NTT. Hal ini sejalan dengan visi dan misi presiden, antara lain menciptakan kedaulatan pangan di masyarakat. Kedaulatan pangan hanya bisa dicapai dengan mendirikan lumbung pangan. "Sampai kapan pun di NTT, bicara pangan enggak akan terwujud kalau tidak ada air. Air hanya akan ada kalau ada bendungan," tegas Jokowi saat peletakan batu pertama pembangunan Bendungan Rotiklot, akhir Desember 2015. (N-3) [email protected]
Copyright @ 2025 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved