Headline
Istana minta Polri jaga situasi kondusif.
Setidaknya 9.000 anak pengungsi dinyatakan hilang tanpa jejak di Jerman. Organisasi-organisasi perlindungan anak mengkhawatirkan mereka menjadi sasaran sindikat perdagangan anak. Badan Investigasi Kepolisian Jerman, Bundeskriminalamt (BKA), dalam rilis mereka, Senin (29/8), menyebutkan anak-anak yang dinyatakan hilang naik signifikan, dari 4.749 anak pada Januari 2016 menjadi 8.911 anak pada Juli 2016. Di antara anak yang hilang jejak, terdapat 867 remaja berusia sekitar 13 tahun. Namun, BKA Jerman menyangsikan angka fantastis tersebut karena anak-anak yang dinyatakan hilang bisa saja bersama kerabat-kerabat mereka.
BKA menegaskan, dengan gelombang besar pengungsi yang masuk Jerman tahun lalu, mustahil membuat pendataan yang tepat dan valid. “Jika seorang anak ditampung di fasilitas pemerintah dan dia pergi, dia melapor kepada kepolisian dan itu pasti tercatat, tetapi dalam banyak kasus anak-anak tersebut pergi begitu saja tanpa pemberitahuan,” kata seorang juru bicara BKA seperti dilansir the Telegraph. “Mereka bisa saja pergi mengunjungi orangtua, saudara atau kenalan mereka di kota-kota lain di Jerman atau negara-negara Eropa lainnya. Mereka pergi tanpa memberi tahu pihak berwenang,” imbuhnya.
Kemungkinan lain, kata dia, ketika mendaftarkan alamat baru, mereka tercatat sebagai anak-anak yang berada di dua lokasi berbeda sehingga tidak memiliki dokumen identitas yang tepat. Europol, badan intelijen kriminal Uni Eropa, juga sebelumnya mengingatkan bahwa anak-anak yang mengungsi tanpa pendampingan sangat berisiko terjerumus sindikat kriminal di seluruh Eropa. Europol mengatakan pada Januari lalu, setidaknya 10 ribu anak pengungsi telah menghilang sejak tiba di Eropa. “Tidak semua dari mereka dieksploitasi, beberapa mungkin telah diteruskan kepada anggota keluarga. Kami hanya tidak tahu di mana mereka, apa yang mereka lakukan atau dengan siapa mereka saat ini, “ kata Brian Donald, Kepala Europol.
Sasaran kriminal
Organisasi-organisasi perlindungan anak mengkhawatirkan anak-anak tersebut telah menjadi target aksi kriminal sindikat perdagangan anak. Save the Children, sebuah lembaga sosial perlindungan anak, mengatakan kekhawatiran itu cukup beralasan mengingat sebelumnya banyak kejadian anak pengungsi di bawah umur dipaksa menjadi pekerja seks dan buruh anak di Italia. “Banyak yang belum teridentifikasi dan terdaftar, banyak juga yang kabur dari pusat penampungan mereka, dan bukannya memilih untuk melakukan perjalanan sendiri. Anak-anak ini beresiko tinggi menjadi korban eksploitasi, perdagangan manusia, dan bentuk-bentuk kejahatan lainnya,” kata juru bicara Save the Children. Untuk kejadian di Italia, kata dia, anak-anak diselundupkan sindikat perdagangan anak yang meminta uang 50 ribu euro untuk perjalanan mereka.
Save the Children menemukan gadis-gadis di bawah umur asal Nigeria dan Rumania dipaksa menjadi pelacur setelah pekerjaan yang dijanjikan sebagai penata rambut atau babysitter ternyata bohong. Bukan hanya itu, anak-anak yang diwawancarai mengatakan mereka dipaksa menjadi buruh atau terlibat narkoba untuk membayar utang-utang mereka. Di Roma, Save the Children menemukan anak laki-laki dipaksa bekerja 12 jam sehari dengan upah 2 euro per jam. (I-2)
Copyright @ 2025 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved