Headline
Istana minta Polri jaga situasi kondusif.
KEBIJAKAN pemerintah Prancis yang melarang wanita muslim memakai burkini saat berkunjung atau berenang di pantai telah menuai kecaman dari banyak kalangan, termasuk para desainer busana muslim internasional. Pengusaha yang memegang merek dagang Burqini juga melakukan hal serupa. Mereka mengaku kecewa dan marah. Dengan kebijakan tersebut, secara otomatis melarang desain dan model baju renang gaya muslim untuk dipakai di pantai-pantai di Prancis. "Saya cukup kecewa mendengar kejadian ini. Mengenakan burkini bukan sebuah sikap politik atau bahkan gerakan-gerakan yang mungkin ditakuti,"kata Rabia Zargarpur, seorang desainer di Dubai. "Bagi wanita muslim, burkini ialah simbol pembebasan, bukan tekanan. Perempuan muslim yang tadinya tidak nyaman untuk berenang di kolam umum atau pantai-pantai terbuka, sekarang dengan model baju renang yang ada jadi bisa ikut di sana. Selain karena alasan kesopanan, juga untuk melindungi kulit dari matahari," sambungnya. Ia juga menolak keras deklarasi yang disampaikan Perdana Menteri (PM) Prancis Manuel Valls baru-baru ini, yang menegaskan burkini sama saja dengan 'perbudakan wanita' dan 'tidak kompatibel dengan nilai-nilai Prancis dan republik'. "Saya jelas tidak sepakat! Bagaimana mungkin bicara 'perbudakan' ketika bahkan perempuan Prancis yang memakai bikini toh tunduk pada dominasi kaum hawa? Apakah itu bukan perbudakan?" dia balik bertanya. "Musuh-musuh nyata kebebasan bukanlah para pemakai burkini, tetapi politisi yang melarang mereka."
Busana muslim meningkat
Di seluruh dunia, pasar busana muslim yang sedang berkembang diproyeksikan bernilai US$327 juta pada 2020, menurut Thomson Reuters dalam laporannya tentang 'Negara Ekonomi Islam'. Dengan populasi global sebanyak 1,6 miliar, konsumen muslim ialah salah satu segmen yang tumbuh paling cepat di dunia fesyen. Shelina Janmohamed, penulis Love in a Headscarf, dan Wakil Presiden Ogilvy Noor mengatakan telah terjadi pergeseran di dalam komunitas muslim perempuan saat ini. "Mereka modern dan mandiri serta ingin rasa memiliki dalam komunitas mereka, tetapi juga ingin menjadi individu dan menegaskan pilihan mereka sendiri," katanya. Di masyarakat, kata dia, saat wanita muslim keluar berbelanja dan di sana, dia tidak menemukan jenis gaun yang cocok buat komunitasnya. "Nah karena itulah sekarang ini muncul produk-produk busana muslim tersebut," jelasnya. Zargarpur juga pernah tinggal di New York dan bekerja di industri fesyen saat serangan 9/11 terjadi. Saat itu mulai menutupi rambut dan kepalanya dengan jilbab, dia menyadari betapa kurangnya pilihan merek atau mode untuk busana penutup kepala bagi kelompok diaspora muslim.
Dia juga mencatat bahwa penemu asli produk burkini-Aheda Zanetti-memiliki banyak pelanggan nonmuslim seperti para penjaga pantai dan mereka yang menderita kanker kulit. Zanetti, desainer Australia dan pengusaha yang muncul dengan merek dagang Burquini dan burkini pada 2004 tersebut turut angkat bicara terkait dengan polemik yang terjadi di Prancis. "Saya pikir ini benar-benar disalahpahami. Saya merasa sangat kasihan orang-orang yang akan terpengaruh oleh kebijakan ini. Burkini itu justru dimaksudkan untuk menyatukan orang sehingga bisa berbaur," kata Zanetti. "Burkini untuk memberikan mereka kebebasan pilihan memakai sesuatu yang sederhana jika mereka memilih untuk menjadi sederhana untuk alasan apa pun yang mereka butuhkan untuk menjadi sederhana. Hal ini justru dibuat untuk memberikan wanita kebebasan," tambahnya.
Suatu yang unik justru terjadi. Saat burkini dilarang di Prancis, justru omzet penjualan burkini karya Zanetti meningkat 200%. "Justru jadi berkah. Penjualan naik, terutama melalui online," sambungnya. Protes juga dilontarkan PM Kanada Justin Trudeau. "Prinsipnya ialah kita harus toleran. Menghormati ciri khas setiap kelompok dan itu ya ada di Kanada," ujar Trudeau.
Copyright @ 2025 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved