Headline
Istana minta Polri jaga situasi kondusif.
KETIKA didiagnosis mengidap diabetes, seseorang ada kalanya bingung dan khawatir. Ia lalu menjalani diet ketat dengan pembatasan makan yang rumit. Padahal, tidak demikian menurut ilmu medis. "Diet diabetesi (pengidap diabetes) pada dasarnya ialah diet sehat, pola makan sehat yang idealnya juga diterapkan semua orang karena diabetesi juga membutuhkan asupan kalori dan zat-zat nutrisi," jelas dokter spesialis gizi dari RS Gading Pluit, Jakarta, Setio Indriatin, pada seminar bertajuk Terapi Nutrisi untuk Diabetes Melitus dan Kolesterol, yang digelar di RS itu, Sabtu (27/8).
Untuk memudahkan, lanjutnya, ia menganjurkan diabetesi memahami prinsip 3J, yaitu jumlah, jenis, dan jadwal makan. "Jumlahnya harus sesuai dengan tingkat kebutuhan kalori. Jenisnya harus pilih bahan makanan yang sehat. Jadwalnya harus teratur." Terkait dengan jumlah, dokter yang akrab disapa Indri itu menjelaskan diabetesi harus tahu berapa kebutuhan rata-rata kalorinya dalam sehari. Patokannya, laki-laki 30 kalori/kg berat badan. Perempuan 25 kalori/ kg berat badan. Jadi, untuk laki-laki dengan berat 50 kg, kebutuhan kalori dalam sehari sekitar 1.500. Kebutuhan itu harus dicukupi dari asupan makanan. Indri pun menganjurkan diabetesi untuk mengetahui jumlah kalori dalam berbagai jenis makanan yang biasa dikonsumsi sehingga ia bisa menghitungnya dengan tepat. Misalnya, nasi tiga perempat gelas mengandung 175 kalori, minyak goreng setengah sendok makan 45 kalori, gula pasir satu sendok makan 40 kalori, dan pepaya 100 gram 40 kalori. "Bisa kita lihat, kandungan kalori dalam minyak sangat besar. Karena itu, diabetesi perlu membatasi penggunaan minyak."
Soal jenis, Indri menganjurkan diabetesi memilih jenis-jenis makanan yang mendukung kesehatannya, misalnya, dalam pemilihan sumber lemak. Sebaiknya pilih sumber lemak baik, seperti minyak jagung, wijen, dan zaitun. "Hindari lemak hewani karena merupakan lemak jenuh yang akan meningkatkan kolesterol." Pun demikian dengan pemilihan jenis karbohidrat. Indri menyarankan pilih sumber karbohidrat kompleks yang memiliki indeks glikemik rendah. Indeks glikemik merupakan suatu angka yang menunjukkan potensi kenaikan kadar gula karena mengonsumsi suatu jenis karbohidrat. Indri mencontohkan beras merah yang berindeks glikemik rendah dan nasi putih yang berindeks glikemik lebih tinggi. "Walau sama jumlahnya, kenaikan gula darah sesudah konsumsi berbeda. Nasi dari beras biasa lebih cepat memberikan dampak kenaikan gula darah sehingga berpotensi menimbulkan lonjakan gula darah. Kalau nasi dari beras merah dicerna lebih lambat, gula darah naik perlahan sehingga lebih stabil." Tentang jadwal, lanjut Indri, ia menyarankan diabetesi untuk makan besar tiga kali sehari dan makan makanan kecil dua kali di antara waktu-waktu makan besar. "Tujuannya agar gula darah tetap stabil, tidak tiba-tiba naik dan tiba-tiba turun," katanya. (Nik/H-1)
Copyright @ 2025 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved