Headline
Istana minta Polri jaga situasi kondusif.
Saraf terjepit merupakan salah satu problem kesehatan yang sangat mengganggu penderitanya. Gejalanya sungguh menyiksa. Diawali dengan kesemutan lalu timbul pegal dan nyeri di sepanjang tungkai maupun lengan yang tidak kunjung reda. Dulu, operasi untuk mengatasi gangguan itu dilakukan dengan pembedahan lebar hingga belasan sentimeter di area tulang punggung. Namun kini, gangguan itu bisa diatasi dengan teknik bedah sayatan kecil, 3-18 milimeter. Dokter spesialis ortopedi dan traumatologi dari RS Premier Bintaro, Harmantya Mahadipta, menjelaskan gangguan saraf terjepit terjadi ketika serabut saraf yang ada di leher atau tulang punggung terjepit oleh gel yang berasal dari diskus. Diskus merupakan jaringan yang ada di sela-sela tulang belakang. Fungsinya seperti pegas.
Diskus terdiri dari gel yang diselubungi struktur serupa cincin liat yang disebut anulus. Saat anulus rusak, gel akan mencuat keluar. Terlebih bila anulus rusak, gel akan mencuat keluar. Jika posisi kerusakan itu kebetulan dekat serabut saraf, gel akan menekan saraf. Tekanan pada saraf itulah yang akan memunculkan gejala-gejala saraf terjepit. Mula-mula berupa kesemutan, lama-lama muncul pegal-pegal hingga nyeri. Jika posisi saraf yang terjepit ada di area leher, gejala itu akan terasa di sepanjang lengan. Jika posisinya di area pinggang, gejala tersebut akan muncul di sepanjang tungkai. "Gejalanya berbeda dengan nyeri pinggang biasa yang disebabkan gangguan di otot. Nyeri pinggang biasa hanya terasa di sekitar pinggang, tapi kalau nyeri karena saraf terjepit terjadi menjalar di sepanjang tungkai atau di sepanjang lengan," ujar Harmantya dalam temu media yang diselenggarakan Ramsay Health Care Indonesia di Jakarta, Kamis (25/8).
Gangguan itu bisa mengenai siapa saja. Namun orang gemuk, orang yang kesehariannya lebih banyak duduk, dan jarang berolahraga lebih berisiko mengalaminya. Terkait dengan penanganan, menurut Harmantya, tidak semua kasus saraf terjepit harus dioperasi. Jika diterapi secara dini, gangguan itu bisa diatasi dengan obat-obatan dan fisioterapi. Namun, jika kondisinya sudah parah, operasi menjadi pilihan utama. Operasi itu dilakukan untuk mengambil gel yang menekan saraf. Dengan demikian, saraf terbebas dari tekanan dan gejala yang selama ini dirasakan penderita akan hilang.
"Dulu, operasi itu dilakukan dengan membedah area tulang punggung. Tapi sekarang cukup dilakukan dengan sayatan-sayatan kecil untuk memasukkan alat serupa pipa-pipa kecil. Dokter bekerja melalui pipa-pipa itu dengan alat-alat khusus. Dokter bisa melihat jaringan dalam tulang punggung dengan bantuan kamera khusus yang dimasukkan dan menghasilkan video yang bisa dilihat di layar monitor besar," papar Harmantya. Jika dibandingkan dengan teknik lama, operasi yang disebut minimal invasive spine surgery (MISS) tersebut memberikan banyak keuntungan, antara lain sayatan yang kecil meminimalkan perdarahan dan luka pascaoperasi. Dengan demikian, masa perawatan dan waktu pemulihan bisa lebih cepat. "Lama perawatan pascaoperasi 1-2 hari, bahkan ada teknik operasi sayatan kecil yang memungkinkan pasien untuk langsung pulang setelah operasi tanpa rawat inap. Adapun masa pemulihan sekitar satu minggu," imbuh Harmantya.
Terapi laser
Selain dengan operasi sayatan kecil, teknologi terbaru juga memungkinkan penanganan saraf terjepit dengan laser yang disebut percutaneous laser disc decompression (PLDD). Teknik tersebut dilakukan tidak dengan operasi pembedahan. "Ini cocok untuk pasien yang takut operasi atau yang kondisinya tidak memungkinkan untuk menjalani operasi," ujar Harmantya. Ia menjelaskan, teknik itu dilakukan dengan memasukkan jarum khusus tepat ke arah diskus yang rusak. Untuk menentukan posisi jarum, dokter dipandu citra yang dihasilkan alat fluoroskopi. Setelah jarum mencapai sasaran, energi laser dialirkan untuk memanaskan jarum tersebut hingga mencapai suhu 80-100 derajat celsius.
"Karena sebagian besar komponen gel dalam diskus terdiri dari air, dengan pemanasan tersebut terjadi penguapan. Gel yang tadinya menonjol menjadi kempis. Dengan demikian, tekanan gel pada saraf juga berkurang. Teknik ini dilakukan cukup dengan bius lokal di area penusukan jarum," terangnya lagi. Namun, lanjut Harmantya, tidak semua kasus saraf terjepit bisa diatasi dengan teknik PLDD. "PLDD hanya untuk kasus HNP yang cincin anulusnya masih utuh, belum robek. Jadi, gel masih terbungkus dalam cincin meski sudah ada tonjolan ke saraf," kata Harmantya. Karena itulah, pemeriksaan saksama diperlukan dalam diagnosis HNP, antara lain melibatkan pemeriksaan dengan alat radiologi seperti magnetic resonance imaging (MRI). "Dengan pemeriksaan saksama, kondisi saraf terjepit yang terjadi bisa dipastikan sehingga bisa dipilih teknik penanganan yang tepat," pungkas Harmantya. (H-1)
Copyright @ 2025 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved