Rabu 08 Juni 2016, 02:20 WIB

Penderita Obesitas di Indonesia Meningkat

(Nda/H-2) | Humaniora
Penderita Obesitas di Indonesia Meningkat

Ilustrasi

 

ANGKA obesitas di Indonesia terus naik seiring dengan pola makan yang salah. Persentase obesitas pada perempuan di 2007 seperti data yang dikeluarkan Kementerian Kesehatan menunjukkan angka 15%. Hal itu sama dengan obesitas pada pria. Namun pada 2016, jumlah perempuan yang kegemukan mencapai 35%. Ketua Umum Perhimpunan Pakar Gizi dan Pangan Indonesia Hardinsyah dari IPB menyebutkan bahwa tingginya angka obesitas pada perempuan disebabkan pola makan yang salah. "Pola makan salah. Karbohidrat lebih banyak ketimbang protein dan serat," ujar Hardinsyah dalam penjelasan tentang manfaat protein yang diselenggarakan Nutrilite di Jakarta, Kamis (26/5).

Dia menyebutkan menu sarapan Indonesia secara umum terbanyak ialah nasi goreng, disusul mi goreng, nasi uduk, bubur ayam, lontong sayur, bihun goreng, nasi kuning, ayam goreng, lontong isi oncom, dan bermacam gorengan. "Kalau makan lebih banyak karbohidrat, yang terjadi ialah sering kali rasa lapar mendera. Akhirnya ngemil atau makan dengan porsi karbohidrat yang sama. Itu paling umum dijumpai di Indonesia," jelas Hardinsyah. Oleh sebab itu, dalam satu dekade ini angka penderita penyakit tidak menular seperti diabetes, jantung, dan obesitas meningkat tajam jika dibandingkan dengan sebelumnya.

Di sisi lain, belanja masyarakat sehari-hari ternyata paling tinggi ialah untuk membeli rokok sekitar 12,3%. "Untuk mencegah atau mengurangi risiko penyakit degeneratif ini mulailah pola makan yang benar. Sarapan diperbanyak protein dan serat seperti sayuran dan buah-buahan," ujarnya. Dia menyebutkan Kementerian Kesehatan telah menganjurkan masyarakat mengonsumsi pangan protein lauk pauk dua hingga empat porsi sehari atau seperlima (20%) dari jumlah makanan yang dikonsumsi setiap kali makan.

"Kajian terkini mengonsumsi sekitar 1,5 gram protein per kilogram berat badan per hari dapat membuat rasa kenyang lebih lama. Jadi sarapan pagi dengan protein lebih lama menahan lapar. Ini membantu mengendalikan berat badan dan faktor risiko metabolik. Itu juga baik untuk segala usia," tambahnya. Hardinsyah menyebutkan bahan protein terbaik bersumber dari kedelai karena proses mengurai lebih lama. Untuk itu, perut pun bisa tetap kenyang meski sudah beberapa jam, sehingga orang yang berisiko mengalami kegemukan bisa dikendalikan. Sumber protein yang umum disukai masyarakat, yakni daging, telur, susu, tempe dan tahu, dan ikan. "Memang ada beberapa sumber protein yang mahal harganya seperti daging. Tapi penggantinya bisa lainnya seperti sumber protein dari kedelai. Sekarang pun sudah ada suplemen atau susu protein," ujarnya. (Nda/H-2)

Baca Juga

Medcom.id

Program Beasiswa OSC Medcom.id Buka Peluang Kerja Sama dengan Universitas Korea Selatan

👤M. Iqbal Al Machmudi 🕔Senin 08 Agustus 2022, 14:18 WIB
Kompetisi Beasiswa Online atau Online Scholarship Competition (OSC) Medcom.id berpotensi menggandeng universitas dari luar negeri seperti...
Ist/Hotel Indonesia Kempinski Jakarta

Hotel Indonesia Kempinski Jakarta Gelar Acara Bertajuk “Wondrous 60 Years"

👤mediaindonesia.com 🕔Senin 08 Agustus 2022, 14:01 WIB
Selama bulan Agustus Hotel Indonesia Kempinski Jakarta bekerja sama dengan ISA Art & Design menyajikan karya seni bertema...
Ist/DPR

Fadli Zon: Prangko Identitas Negara dan ‘Second Track Diplomacy’ Antarwarga

👤mediaindonesia.com 🕔Senin 08 Agustus 2022, 12:55 WIB
Ketua Badan Kerja Sama Antar Parlemen (BKSAP) DPR RI Fadli Zon menilai kehadiran prangko dapat menjadi identitas suatu negara, seperti...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya