Sabtu 13 April 2019, 06:40 WIB

Gajah Kerdil yang Terancam Punah

(WWF/Antara/Grt/L-2) | Humaniora
 Gajah Kerdil yang Terancam Punah

WWF INDONESIA
GAJAH MINI: Habitat gajah kalimantan masuk dalam wilayah Heart of Borneo.

 

BENTUKNYA lebih kecil daripada gajah pada umumnya. Jika gajah sumatra bisa setinggi 3 meter, gajah kalimantan maksimal hanya 2,5 meter. Itu juga yang membuat gajah ini dijuluki gajah kerdil atau Borneo pygmy elephant.

Keunikan lain ada pada panjang ekor yang bisa mencapai tanah. Telinganya pun lebih lebar daripada jenis gajah lain. Perbedaan lain ialah bentuk gading yang relatif lebih lurus.

Mungkin jika dibayangkan gajah ini mirip dengan animasi Dumbo dari Disney yang saat ini sedang tayang di bioskop. Kemiripan itu diperkuat lagi karena raut muka gajah kalimantan terlihat ini seperti bayi gajah dan sifatnya yang tidak agresif.

Namun, di balik berbagai keunikan itu, jumlah gajah endemis Kalimantan atau yang hanya bisa ditemukan di Pulau Kalimantan ini hanya sedikit tersisa. Di Indonesia, gajah dengan nama latin Elephas maximus borneensis ini diperkirakan hanya berjumlah 30-80 ekor.

Dari jumlah itu, 5-20 di antaranya diperkirakan adalah gajah jantan. International Union for Conservation of Nature (IUCN) pun menetapkan gajah kalimantan dalam status spesies yang terancam punah atau genting (endangered).

Habitat utama gajah di Kalimantan hanya ditemukan di Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara, tepatnya di Kecamatan Tulin Onsoi. Berdasarkan pemetaan yang telah dilakukan oleh World Wide Fund for Nature (WWF) Indonesia, gajah kalimantan tersebar di sekitar hulu Sungai Sebuku, Kalimantan Utara, yaitu di Sungai Agison dan Sungai Sibuda bagian barat serta Sungai Apan dan Sungai Tampilon di bagian timur.

Populasi gajah di Kalimantan lebih kecil jika dibandingkan dengan populasi gajah kalimantan di wilayah Sabah, Malaysia. Populasi gajah di Sabah diperkirakan mencapai 1.500-2.000 ekor. Wilayah ini berbatasan langsung dengan Kecamatan Tulin Onsoi.

Habitat gajah kalimantan masuk dalam wilayah Heart of Borneo atau wilayah inisiatif dari Brunei Darussalam, Indonesia, dan Malaysia dalam upaya menjaga lingkungan.

Meski jumlah populasinya lebih sedikit, keberadaan gajah kalimantan di Indonesia tetap berarti bagi keanekaragaman hayati yang dimiliki negara ini. Habitat gajah kalimantan harus dipertahankan di tengah ancaman konversi hutan menjadi perkebunan sawit.

Survei Habitat

Serangkaian survei lapangan yang dilakukan sejak Februari 2018 telah mengeksplorasi ancaman yang ada terhadap kelangsungan hidup gajah Kalimantan (Elephas maximus borneensis).

Salah satu ancaman utama ialah hilangnya dan perusakan habitat. Hasilnya menunjukkan 16% habitat alami gajah kalimantan telah dihancurkan atau dirusak. Habitat mamalia meliputi 93.800 hektare pada 2007.

Antonius, dari World Wide Fund for Nature (WWF), percaya bahwa penyebab utama kerusakan habitat gajah di Kalimantan ialah konversi hutan menjadi perkebunan kelapa sawit. Terlepas dari konversi darat ini, jalur migrasi gajah tidak berubah.

Akibatnya, gajah-gajah itu pasti merusak perkebunan kelapa sawit skala kecil dan perusahaan. "Untungnya, konflik antara manusia dan gajah di Kalimantan jarang terjadi. Ini karena beberapa komunitas masih percaya bahwa gajah harus dihormati, dan bahwa karma akan mengunjungi orang-orang jika mereka mengganggu gajah, "katanya.

Pertumbuhan populasi gajah dan kerusakan habitat dapat meningkatkan potensi konflik manusia-hewan. Dukungan kebijakan untuk rencana tata ruang regional dengan demikian diperlukan untuk memastikan pengelolaan habitat yang efektif dan untuk meningkatkan daya dukung lingkungan.

Pengamatan menunjukkan bahwa gajah kalimantan relatif aman tanpa ada kasus yang dapat menyebabkan penurunan populasi gajah. Survei terakhir pada 2012 memperkirakan populasi gajah mencapai 30-80 individu.

Pada Senin pagi itu, tim survei gajah Borneo WWF Indonesia melakukan perjalanan ke Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara, yang dianggap sebagai habitat utama hewan-hewan yang terancam punah. Ini survei keenam sejak survei pertama, yang dilakukan pada Februari 2018.

Empat tim yang terdiri atas 40 orang terlibat dalam survei. Mereka melintasi sungai dan rute migrasi selama seminggu untuk menentukan habitat dan populasi gajah Kalimantan.

"Semoga hasil survei ini dapat memberikan data dan informasi terkini tentang wilayah dan habitat gajah kKalimantan, termasuk habitat hutan, populasi mereka saat ini dan ancaman terhadap habitat mereka," kata Agus Suyitno, staf spesialis spesies Lanskap Kayan untuk gajah WWF Indonesia. (WWF/Antara/Grt/L-2)

Baca Juga

Kemenag

Hari Kenaikan Isa Almasih, Menteri Agama Ajak Pererat Kerukunan Umat

👤 Ferdian Ananda Majni 🕔Kamis 26 Mei 2022, 15:45 WIB
Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas mengatakan, peringatan ini jadi momentum untuk mempererat kerukunan umat beragama di...
ANTARA FOTO/Anis Efizudin

Presiden: Aktivitas Seni dan Budaya Harus Kembali Bangkit

👤Andhika Prasetyo 🕔Kamis 26 Mei 2022, 15:39 WIB
“Sudah dua tahun ini kegiatan seni vakum. Saya harapkan setelah pandemi bisa kita kendalikan, aktivitas itu bisa dimulai...
Antara/Wahyu

GPDRR Ke-7 Ambil Pelajaran dari Pandemi Covid-19

👤Atalya Puspa 🕔Kamis 26 Mei 2022, 15:35 WIB
PELAKSANAAN Global Platform for Disaster Risk Reduction (GPDRR) ketujuh di Nusa Dua, Bali, telah berlangsung sejak 23 Mei 2022...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya