Headline

Istana minta Polri jaga situasi kondusif.

Ibu, Jangan Panik Jika ASI Belum Keluar

Indriyani Astuti
04/8/2018 16:22
Ibu, Jangan Panik Jika ASI Belum Keluar
(thinkstock)

AIR susu ibu (ASI) yang tidak keluar pascamelahirkan menjadi salah momok bagi seorang ibu.

Dr.dr. Ariani Dewi Widodo SpA (K) dari Rumah Sakit Anak dan Bunda Harapan Kita, memberi kiat agar ASI lekas keluar dengan memompa dan melakukan pijatan pada payudara. Meskipun panik merupakan reaksi wajar pada seorang ibu, namun Ariani menegaskan untuk menghindari hal tersebut.

"Semakin ibu panik, ASI justru akan semakin sedikit keluar. Teruslah mencoba untuk memompa dan lakukan pijatan pada payudara," kata Ariani dalam acara PREGNITY Smart Sharing oleh Prenagen, di Jakarta, Sabtu (4/8).

Bayi baru lahir, imbuh Ariani, dapat bertahan hingga tiga hari tanpa minum ASI. Sebab, mereka memiliki cadangan protein dalam tubuhnya. Pada hari pertama lahir, ukuran lambung bayi hanya sebesar kelereng, atau setara dengan kebutuhan ASI sebanyak 5-7 mililiter. Biasanya, kebutuhan itu dapat dipenuhi oleh kolostrum atau perahan ASI pertama.

Barulah pada hari kedua, lambung bayi membesar sebesar bola pingpong, sehingga kebutuhan minumnya meningkat menjadi 22-27 mililiter. Kemudian pada usia satu minggu, lambung bayi telah jauh berkembang dan kebutuhan ASI menjadi 45-60 mililiter.

Pascamelahirkan, para ibu dianjurkan untuk melakukan inisiasi menyusu dini (IMD) pada bayinya. IMD dilakukan dengan meletakan bayi baru lahir di dada ibunya selama satu jam. Melalui proses IMD, bayi akan berusaha mencari puting ibunya untuk menyusu.

Akan tetapi dr. Ariani mengingatkan tujuan utama IMD bukan agar bayi langsung bisa menyusu, melainkan membentuk ikatan (bonding) melalui kontak skin to skin antara bayi dan ibunya.

"Ada persepsi yang salah bahwa bayi harus mencapai puting. Padahal yang paling penting ialah skin to skin. Dengan proses itu kelenjar susu akan terstimulasi dan ASI dapat keluar lancar," tuturnya.

Setelah melahirkan, ibu juga diingatkan agar tidak hanya memerhatikan pemenuhan ASI tapi juga pertumbuhan dan berat badan bayi.

"Semua bayi harus dipantau pertumbuhan dan berat badannya, kenaikannya harus sesuai grafik. Kalau berat badanya turun dokter anak akan monitor berat badan bayi," pungkasnya.(OL-6)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya