Sabtu 17 Juni 2017, 11:00 WIB

Dari Homeschooling Tembus Kampus Ganesha

Administrator | Humaniora
Dari Homeschooling Tembus Kampus Ganesha

MI/FETRI WURYASTI

 

SUATU hari, ketika pulang dari bermain di lingkungan rumahnya di Kompleks Sarimas Bandung, Jawa Barat, kepala Izzan kecil berdarah akibat di-bully (dirisak) teman-temannya.

Bahkan ketika mengikuti lomba robotik pun, remaja bernama lengkap Musa Izzanardi Wijanarko,14, itu mengalami perisakan karena dianggap berbohong saat ia mengatakan bisa mengerjakan soal matematika level SMA.

Pengalaman sering mengalami hinaan dan perisakan karena dianggap berbeda itulah membuat Izzan termotivasi untuk membuktikan dirinya mampu melebihi kemampuan anak seusianya.

Itu terbukti setelah ia lulus ujian seleksi bersama masuk perguruan tinggi negeri (SBMPTN) di Institut Teknologi Bandung (ITB) Bandung.

"Mungkin bisa dibilang itu ego saya juga. Saya merasa dihina di lingkungan tetangga, dianggap anak aneh. Setidaknya dengan ini, saya ingin menunjukkan bahwa saya punya kelebihan sesuatu tidak cuma anak nakal pembuat masalah," tutur Izzan mengenai motivasinya untuk jauh lebih maju dari kawan-kawannya, di Jakarta kemarin.

Izzan diterima di ITB setelah ikut ujian SBMPTN untuk kedua kalinya.

Pecinta bidang studi matematika dan fisika itu belajar intensif selama dua bulan.

Menurut sang ibu, Yanti Herawati, kecerdasan Izzan yang di atas rata-rata itu telah terlihat sejak kecil.

Setelah mengetahui anaknya tidak naik kelas di TK akibat tidak dapat berkomunikasi dua arah dan sulit diatur, dia memilih mendidik anaknya secara homeschooling.

Pada usia 3,5 tahun, saat diajak ke tempat pusat peraga iptek, Izzan sudah menunjukkan ketertarikan.

Anaknya kemudian merasa sakit hati dan memilih untuk belajar dari ibunya, yang kebetulan juga mengisi waktunya membuat konsep materi pelajaran dan menjadi helper di Sekolah Alam Bandung, Curug, Dago.

Yanti mengakui bahwa Izzan ialah anak yang hanya mau berkomunikasi dan berpikir atas caranya sendiri.

Itulah sebabnya ia turun tangan membuat pola belajar anak yang sesuai dengan impian anaknya.

Yanti sadar, ada anak dengan tipe seperti Izzan yang di usia awal ada bagian otak yang bertanggung jawab atas kecerdasan tertentu tumbuh berkembang lebih dulu.

"Orangtua dan guru harus menemukan keunikan anak dan bukan menghancurkannya. Orang dewasa juga tidak seharusnya melecehkan dan menghancurkan mimpi-mimpi anak," tambahnya.

Menurut Yanti, selain kecerdasan otak, mental anaknya perlu disiapkan untuk menghadapi bangku kuliah mengingat jenjang usia yang akan terpaut cukup jauh dengan kawan sekampusnya.

"Saya tidak bilang dia cerdas sehingga orang lain tidak paham. Namun, dia memiliki cara berbicara dan berpikir sendiri. Saya berharap dengan lingkungan universitas akan lebih berbeda. Mungkin dia cocok dengan bahasan akademik orang dewasa," pungkas Yanti. (Vetry Wuryasti/X-7)

Baca Juga

ANTARA FOTO/Ari Bowo Sucipto

Tangani Korban Erupsi Gunung Semeru, PMI Kirim Bantuan dan Personel

👤Atalya Puspa 🕔Minggu 05 Desember 2021, 13:04 WIB
PMI juga mengerahkan relawan untuk melakukan kaji cepat (assesment) kebutuhan serta evakuasi masyarakat...
Pexels

Ahli Gizi Sarankan Tambah Protein untuk Camilan Harian

👤Basuki Eka Purnama 🕔Minggu 05 Desember 2021, 12:45 WIB
"Jadi sel-sel yang sudah terbentuk lama-lama menua, butuh dikasih protein supaya tetap disintesis, kepadatannya tetap ada, karena...
ANTARA/Iggoy el Fitra.

BMKG: Waspadai Gelombang Tinggi 6 Meter di Perairan Indonesia

👤Ferdian Ananda Majni 🕔Minggu 05 Desember 2021, 11:30 WIB
Pola angin di wilayah Indonesia bagian utara dominan bergerak dari Barat - Utara dengan kecepatan angin berkisar 8 - 30...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya