Minggu 26 Februari 2017, 00:00 WIB

Krisis Etika Berlalu Lintas

Arya Manggala | Foto
Krisis Etika Berlalu Lintas

MI/ARYA MANGGALA

 

DISIPLIN pengemudi dalam berkendara masih memprihatinkan. Di Jakarta, secara kasatmata, setiap hari kita menyaksikan pengendara motor melanggar aturan. Masuk busway, melawan arus, tidak memakai helm, menerobos lampu merah, memutar balik di daerah terlarang, dan berbagai jenis pelanggaran lainnya masih dianggap lumrah. Tanpa etika berlalu lintas, pengemudi seenaknya tidak memedulikan keselamatan orang lain. Akibatnya, lalu lintas di jalan raya berjalan semrawut sehingga rawan terjadi kemacetan dan kecelakaan.

Pemandangan yang didominasi menumpuknya kendaraan bermotor sering terjadi terutama di Ibu Kota Jakarta. Salah satu penyebabnya ialah kurangnya tenggang rasa antara pengemudi dan pengendara kendaraan bermotor. Mereka saling serobot, tidak mau mengalah satu dengan lainnya. Tindakan mereka disebabkan kurang memahami memahami etika berlalu lintas di jalan raya. Dari jenis kendaraan yang digunakan pelanggar, sepeda motor masih yang terbanyak. Menurut catatan kepolisian, pelanggaran itu naik jika dibandingkan dengan tahun lalu. Jumlah kendaraan bermotor di Jakarta tumbuh pesat setiap hari.

Dalam sehari sekitar 6.000 kendaraan baru terjual. Kendaraan roda empat mencapai 1.600 unit, sedangkan roda dua 4.000 sampai 4.500 unit. Menurut Data Transportasi Jakarta 2015, jumlah kendaraan mencapai 17,5 juta unit terdiri dari sepeda motor 13 juta sepeda motor, 3,2 juta mobil penumpang, 673 ribu mobil barang, serta 362 ribu bus. Saat ini kesempatan memiliki kendaraan, terutama kendaraan roda dua, semakin mudah. Cicilan kredit motor makin murah, bunga ringan, dan terkadang tanpa down payment (DP) konsumen sudah bisa membawa pulang. Hal itu menjadi salah satu penyebab makin banyaknya kendaraan di jalan raya. Yang menjadi masalah serius sekarang ialah, dengan semakin banyaknya kendaraan, makin banyak pula pengendara kendaraan baik roda empat maupun roda dua yang tidak membarenginya dengan etika berkendara atau berlalu lintas dengan benar.

Saat mempunyai kendaraan bermotor, seharusnya kita mematuhi etika berkendara atau berlalu lintas. Sebagai pengendara, kita seharusnya menjunjung tinggi etika dalam mematuhi semua peraturan dan rambu-rambu lalu lintas. Untuk apa peraturan dan rambu lalu lintas dibuat? Peraturan dan rambu lalu lintas dibuat dan dipasang untuk dipatuhi, ditaati, dan yang terlebih penting dilaksanakan.

Peraturan dan rambu lalu lintas bukan sekadar pajangan. Etika berkendara atau etika berlalu lintas tidak hanya menjadi tanggung jawab dari pihak berwenang, tapi juga diri kita sendiri. Bagaimana pribadi kita mematuhi peraturan dan rambu lalu lintas tanpa terpengaruh oleh perilaku pengguna jalan raya lain yang melanggar lalu lintas. Semakin hari semakin banyak jumlah pengendara yang melanggar ketertiban lalu lintas tanpa memedulikan rambu lalu lintas, keselamatan orang lain, dan keselamatan diri sendiri. Jangan karena mereka melanggar ketertiban lalu lintas, kita malah mengikuti tindakan yang tidak benar tersebut. (M-2)

Baca Juga

MI/Agus Mulyawan

Dalam Keikhlasan dan Kekhusyukan

👤Agus Mulyawan 🕔Minggu 22 Juli 2018, 00:00 WIB
SEPERTI tangan-tangan yang menggapai di pintu Kabah, begitulah perasaan jiwa ketika akhirnya bisa menatap Baitullah di akhir Juni lalu....
 MI/PANCA SYURKANI

Rusia yang Bersatu

👤FOTO DAN TEKS: MI/PANCA SYURKANI 🕔Minggu 13 Mei 2018, 01:05 WIB
JUTAAN warga mengular sepanjang 6 kilometer, melangkah perlahan menuju Lapangan Merah,...
MI/Tiyok

Dari Kos-kosan Menuju Pesantren

👤MI/Tiyok 🕔Sabtu 05 Mei 2018, 00:05 WIB
TERPIDANA kasus korupsi kartu tanda penduduk elektronik (KTP-E), Setya Novanto alias Setnov, mulai Jumat (4/5) menjalani hukumannya di...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya