Minggu 23 Oktober 2016, 05:45 WIB

Pilu di Lahan yang Salah

MI/Ramdani | Foto
Pilu di Lahan yang Salah
 

SAMBIL menggendong anak bungsunya, Alim, 55, menatap Kali Ciliwung. Rabu (15/10) itu aliran kali tampak tenang, tetapi mungkin tidak demikian dengan pikiran Alim. Tanah tempatnya berpijak semula merupakan ruang tamu tetangganya. Namun, kini rumah tersebut, serta rumah tetangga-tetangganya yang lain di Bukit Duri, Tebet, Jakarta Selatan, hanya tinggal puing.

Ali hanyalah satu dari banyak warga bantaran di Bukit Duri yang akhir bulan lalu meratap pilu. Kampung mereka terkena proyek normalisasi Kali Ciliwung. Kini mereka hanya tinggal mengenang jejak kehidupan di sana, sambil juga mengumpulkan harta yang masih tersisa.

Di sisi lain, kepiluan itu tidak juga jadi dendam dan amarah berkepanjangan. Tidak sedikit di antara mereka yang sadar telah menempati lahan yang salah. Sebab itu pula, beberapa warga secara mandiri membongkar rumah mereka. Harapan mereka material bangunan tidak sepenuhnya rusak sehingga dapat digunakan lagi di tempat lain. Hal itu pula yang dilakukan Nurmali, 62. Ia mengumpulkan batu bata hasil bongkaran.

"Saya, istri, dan anak sudah menempati rumah susun sederhana sewa (rusunawa) di Rawabebek, Bekasi Barat. Pagi saya ke sini sengaja bongkar sendiri rumah yang dulu saya tempati agar tidak berantakan. Kalau pakai alat berat, rumah ini mungkin sudah rata dengan tanah. Sisa rumah 2 x 4 meter ini mungkin akan saya buat tempat usaha kecil-kecilan," ucap Nurmali yang tiga perempat rumahnya terkena proyek normalisasi Kali Ciliwung.

Di sisi lain, ada pula segelintir warga yang bertahan tinggal di sekitar daerah aliran sungai (DAS) tersebut. Maswadi, 68, bersama istrinya, misalnya, tetap tinggal di rumah yang sudah terpotong. Maswadi bahkan berencana memperbaikinya dengan memanfaatkan puingpuing yang tersisa. Padahal, anak dan cucunya sudah menempati Rusunawa Rawabebek tidak lama setelah surat peringatan pertama pembongkaran diterbitkan.

"Saya sudah turun-temurun tinggal di sini. Biarlah saya coba menghabiskan masa tua di bangunan yang masih tersisa," ucap Maswadi. Normalisasi kali di wilayah itu tidak terelakkan karena begitu rusaknya DAS. Rumah-rumah hampir tidak berjarak dengan tepi kali sehingga tidak men gherankan jika mereka langganan banjir.

Setelah pembongkaran rumah dilakukan, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta berencana melebarkan kali hingga radius 50 meter ke arah tepinya. Normalisasi itu tidak hanya bertujuan memperbaiki aliran di daerah itu, tetapi berimbas besar pula pada Jakarta. (M-3)

Baca Juga

MI/Agus Mulyawan

Dalam Keikhlasan dan Kekhusyukan

👤Agus Mulyawan 🕔Minggu 22 Juli 2018, 00:00 WIB
SEPERTI tangan-tangan yang menggapai di pintu Kabah, begitulah perasaan jiwa ketika akhirnya bisa menatap Baitullah di akhir Juni lalu....
 MI/PANCA SYURKANI

Rusia yang Bersatu

👤FOTO DAN TEKS: MI/PANCA SYURKANI 🕔Minggu 13 Mei 2018, 01:05 WIB
JUTAAN warga mengular sepanjang 6 kilometer, melangkah perlahan menuju Lapangan Merah,...
MI/Tiyok

Dari Kos-kosan Menuju Pesantren

👤MI/Tiyok 🕔Sabtu 05 Mei 2018, 00:05 WIB
TERPIDANA kasus korupsi kartu tanda penduduk elektronik (KTP-E), Setya Novanto alias Setnov, mulai Jumat (4/5) menjalani hukumannya di...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya