Selasa 29 November 2016, 15:38 WIB

Tiga Penentu Industri Consumer Good Mendatang

Administrator | Ekonomi
Tiga Penentu Industri Consumer Good Mendatang

ANTARA

 

BERDASARKAN Kantar Worldpanel, pertumbuhan industri FMCG (fast moving consumer goods) di Asia pada kuartal III 2016 dibandingkan dengan tahun sebelumnya mengalami pertumbuhan yang positif sebesar 3%. Beberapa negara di Asia Tenggara seperti Indonesia, Vietnam, dan Filipina menunjukkan tingkat pertumbuhan yang lebih tinggi dibandingkan dengan total Asia.

Untuk Indonesia, misalnya, pertumbuhan consumer good pada setahun terakhir di kuartal III 2016 sebesar 4,8%. Salah satu hal yang menyebabkan pertumbuhan market di Indonesia yakni kenaikan harga barang
per unit. Jika melihat indikasi perekonomian secara garis besar, perekonomian Indonesia sudah mulai membaik dibandingkan 2014. Hal ini terlihat dari tingkat inflasi rendah, pengangguran menurun, nilai tukar rupiah stabil, dan pembangunan infrastruktur yang terus berjalan.

Marcy Kou, CEO Kantar Worldpanel Asia, memaparkan ada tiga hal penentu yang membentuk industri consumer good di masa depan, yaitu konsumen digital, transformasi struktur ritel, dan perilaku konsumen terhadap berbagai produk. "Pertama, konsumen digital. Dengan perkembangan pesat gadget, media sosial, dan berbagai aplikasi digital, mendorong banyak konsumen untuk beralih ke dunia digital. Pengguna aktif media sosial di Indonesia bahkan mencapai 65 juta orang. Jumlah ini merupakan terbesar kedua di Asia setelah China. Berbagai aplikasi dengan beragam kegunaan seperti Gojek dan Tokopedia pun berkembang dengan pesat. Perkembangan pesat di dunia digital memengaruhi para produsen untuk berinvestasi lebih pada media digital," ulasnya.

Hal itu juga ditegaskan oleh Andrew Ridsdale-Smith, Expert Solutions Director Kantar Worldpanel. Pemasaran melalui digital harus dimanfaatkan oleh para pemain FMCG dalam memasarkan produk mereka. Hal ini merupakan keunggulan, karena bisa meraih pasar yang sangat banyak dan menjadi tantangan untuk mereka.

Faktor kedua, perubahan struktur ritel. Dengan perkembangan digital, bisnis e-commerce semakin berkembang dengan pesat, termasuk di Asia. Berdasarkan data Kantar Worldpanel, kontribusi e-commerce di Korea Selatan terhadap pembelian total FMCG mencapai 16,6% dengan pertumbuhan sebesar 35%. Tidak hanya di Korea, e-commerce juga berkembang pesat di Tiongkok (pertumbuhan 47%) dan Taiwan (pertumbuhan 31%). Secara garis besar, dengan kemudahan yang ditawarkan oleh e-commerce, membawa perubahan terhadap struktur ritel dan kebiasaan belanja di Asia.

Terakhir, pengaruh perilaku konsumen terhadap brand. Ada beribu alasan dalam memilih suatu produk. Salah satunya, orang ingin berperan aktif dalam membangun suatu bangsa dengan meningkatkan kualitas hidup
masyarakatnya. Dengan merangkul konsumen secara lebih personal dan emosional, hal ini dapat membantu para pemain FMCG dalam memasarkan lebih baik produk yang mereka tawarkan.

Marie Anne, International Insight Director Kantar Worldpanel Indonesia, mengungkapkan bahwa konsumen memiliki pola konsumsi yang mirip, yaitu peduli dengan kesehatan serta keamanan, membawa kebahagiaan untuk konsumen, dan menawarkan kemudahan.(RO/OL-6)

Baca Juga

Antara/Indiranto Eko Suwarso

Dukung Impor Bawang Putih, KPPU : Jaga Stok Dalam Negeri

👤Insi Nanrtika Jelita 🕔Senin 17 Mei 2021, 20:32 WIB
Wakil Ketua KPPU Guntur Syahputra Saragih berpendapat, hampir dipastikan tidak ada produk subsitusi di dalam negeri yang cukup alias...
Antara

Impor Bawang Putih, Kemendag : Itu Sesuai Permendag

👤Insi Nantika Jelita 🕔Senin 17 Mei 2021, 19:48 WIB
"Impor bawang putih diatur dalam Permendag 27 tahun 2020. Coba lihat dulu aturannya," ungkap Indrasari Wisnu...
Dok. Pribadi

Kadin Maluku Deklarasikan Dukungan untuk Arsjad Rasjid

👤espian Nurhidayat 🕔Senin 17 Mei 2021, 19:19 WIB
Pada Sabtu (15/5) lalu, dukungan terbaru resmi didapatkan Presiden Direktur Indika Energy itu dari Kadin...

E-Paper Media Indonesia

HALAMAN FOKUS EKSTRA 4 HALAMAN

Fokus Edisi

Optimalkan Potensi Zakat, Ekonomi Bergerak

Berdasarkan data outlook zakat Indonesia pada 2021 yang dipublikasikan Badan Amil Zakat Nasional (Baznas), potensi zakat Indonesia mencapai Rp327,6 triliun.

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya