Headline
Pelibatan tokoh dan elite politik akan memperkuat legitimasi kebijakan pemerintah.
Pelibatan tokoh dan elite politik akan memperkuat legitimasi kebijakan pemerintah.
Kumpulan Berita DPR RI
PEMERINTAH merevisi perkiraan batas atas pertumbuhan ekonomi 2020 dari 2,3% menjadi 1%. Hal ini dilakukan sebagai respons dari pertumbuhan ekonomi triwulan II 2020 yang terkontraksi cukup besar, yakni -3,1%.
“Outlook pertumbuhan proyeksi menjadi -0,4% hingga 1%. Batas atas kami turunkan dari 2,3% menjadi 1%,” ujar Menteri Keuangan Sri Mulyani dalam rapat kerja bersama Badan Anggaran DPR, kemarin.
Sejalan dengan pemerintah, Bank Indonesia (BI) juga memperkirakan pertumbuhan akhir tahun berada di kisaran 0,9% hingga 1,9%.
Pertimbangannya sama, yakni penurunan pertumbuhan ekonomi nasional yang menurun di triwulan II 2020.
Adapun revisi pertumbuhan itu masih lebih optimistis ketimbang proyeksi beberapa lembaga internasional, seperti Bank Dunia yang memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia hanya 0% dan Asian Development Bank (ADB) sebesar -1%.
Lebih lanjut, Sri Mulyani mengatakan realisasi pertumbuhan ekonomi Indonesia 2020 amat ditentukan pertumbuhan di triwulan III dan IV.
“Ini sangat bergantung dari kemampuan kita untuk pulihkan ekonomi di triwulan III dan IV atau semester II tahun ini,” pungkasnya.
Arah pemulihan
Pantauan BI, pada Mei 2020 tekanan perekonomian domestik mulai berkurang.
“Kontraksi ekspor tidak sedalam perkiraan sebelumnya,” ucap Perry.
Bahkan, neraca perdagangan surplus US$2,09 miliar, yang berarti membaik jika dibandingkan dengan April 2020 yang defisit US$372,1 miliar.
Permintaan domestik juga mengindikasikan telah berada di level terendah dan menuju tahap pemulihan. Hal ini terlihat dari penjualan semen ritel dan ekspektasi konsumen lebih dari capaian sebelumnya.
Oleh karena itu, BI memperkirakan proses pemulihan ekonomi pada triwulan III 2020 sejalan degan relaksasi PSBB pertengahan Juni 2020 serta stimulus kebijakan fiskal dan moneter ataupun program pemulihan ekonomi nasional.
Gubernur BI Perry Warjiyo meyakini bahwa pada 2021 nanti ekonomi Indonesia kembali bangkit hingga menyentuh 6%.
“Kembali meningkat pada kisaran 5%-6% pada 2021 didorong dengan perbaikan ekonomi global dan stimulus kebijakan pemerintah dan faktor statistik,” ungkapnya.
Guna mendukung pemulihan ini, BI juga kembali memangkas suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 4,25%.
Penurunan suku bunga acuan diharapkan akan menurunkan bunga kredit, pasar uang, deposito, dan imbal hasil untuk surat berharga negara dalam masa covid-19 sehingga biaya dari APBN bisa ditekan.
Lebih lanjut, kepercayaan dunia internasional terhadap perekonomian Indonesia juga terus meningkat.
Hal ini dapat dilihat masuknya aliran dana asing yang hingga per 15 Juni tercatat US$7,3 miliar.
Pemerintah pun sukses menerbitkan sukuk global sebesar US$2,5 miliar yang mencatatkan kelebihan permintaan hampir 6,7 kali. (Iam/E-1)
UBS menggelar UBS OneASEAN Summit untuk ke-14 kalinya dengan menghadirkan lebih dari 850 investor institusional, pembuat kebijakan, serta pemimpin industri dari berbagai negara.
Bank Indonesia (BI) mengapresiasi catatan surplus neraca perdagangan Indonesia pada Januari tahun ini.
Gubernur BI Perry Warjiyo proyeksikan pertumbuhan ekonomi RI triwulan I 2026 tetap kuat di tengah tantangan global. Simak faktor pendorong dan analisisnya.
Presiden Prabowo Subianto menjelaskan langkah pemerintah dalam mempertahankan pertumbuhan ekonomi nasional di atas 5% sekaligus mempercepat pembangunan konektivitas.
Pelajari cara menghitung pertumbuhan ekonomi suatu negara dengan rumus PDB riil. Panduan lengkap beserta indikator dan contoh penghitungan mudah.
Transisi menuju ekonomi sirkular dinilai penting untuk mendukung pertumbuhan yang inklusif, meningkatkan daya saing nasional, serta membantu pencapaian target Net Zero Emissions 2060.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved