Selasa 17 Desember 2019, 13:45 WIB

Defisit November 2019 Indikasi Permintaan Domestik tetap Baik

M Ilham Ramadhan Avisena | Ekonomi
Defisit November 2019 Indikasi Permintaan Domestik tetap Baik

Dok IECD
Direktur Departemen Komunikasi Bank Indonesia (BI) Junanto Herdiawan

 

DEFISIT neraca perdagangan Indonesia pada November 2019 sebesar US$1,33 miliar dipengaruhi kenaikan impor barang konsumsi seiring dengan pola musim jelang akhir tahun dan kebutuhan impor untuk kegiatan produktif.

Meski sempat mengalami surplus sebesar US$0,17 miliar pada Oktober 2019, karena kinerja ekspor yang belum menguat dan kondisi global yang urung pulih, defisit pada November menjadi tidak terelakkan.

Direktur Departemen Komunikasi Bank Indonesia (BI) Junanto Herdiawan dalam keterangan resminya, Selasa (17/12), menyatakan defisit migas dan nonmigas yang terjadi menguatkan prediksinya ihwal defisit transaksi berjalan 2019 yang berada di kisaran 2,7% dari PDB.

"Neraca perdagangan nonmigas pada November 2019 tercatat defisit US$0,30 miliar menurun dibandingkan dengan capaian bulan sebelumnya yang mencatat surplus US$1,01 miliar. Di satu sisi, perkembangan tersebut dipengaruhi peningkatan impor nonmigas barang konsumsi, termasuk bahan makanan, sesuai pola musiman akhir tahun," terang Junanto.

Baca juga: Jokowi Sebut Ada yang Hobi Impor Energi

Selain itu, impor barang modal seperti mesin atau peralatan listrik dan pesawat mekanik juga mengalami peningkatan. Berbarengan dengan itu, kinerja ekspor nonmigas seperti komoditas bijih, kerak dan abu logam, besi dan baja, bahan bakar mineral belum menguat.

Di lain sisi, defisit neraca perdagangan migas pada November 2019 meningkat menjadi US$1,03 miliar dari bulan sebelumnya yang hanya US$0,84 miliar.

Peningkatan itu, kata Junanto, didorong naiknya impor migas dalam bentuk minyak mentah, hasil minyak, dan gas meski kinerja ekspor migas juga meningkat dari naiknya ekspor minyak mentah dan gas.

"Bank Indonesia memandang perkembangan neraca perdagangan pada November 2019 mengindikasikan permintaan domestik tetap baik. Peningkatan impor barang konsumsi menggambarkan daya beli yang tetap terjaga," imbuhnya.

"Sementara itu, peningkatan impor barang modal mencerminkan keyakinan pelaku ekonomi terhadap prospek perekonomian Indonesia yang tetap baik. Ke depan, Bank Indonesia akan terus memperkuat sinergi kebijakan dengan Pemerintah dan otoritas terkait untuk meningkatkan ketahanan eksternal, termasuk prospek kinerja neraca perdagangan," pungkas Junanto. (OL-2)

Baca Juga

ANTARA/Aditya Pradana Putra

Daging Sapi Impor Naik, Pedagang Jabodetabek Mogok Massal

👤M Iqbal Al Machmudi 🕔Rabu 20 Januari 2021, 18:06 WIB
Diketahui, kenaikan harga daging sapi sudah terjadi sejak Juli 2020 sampai dengan Januari 2021 yang mencapai Rp130.000/kg pembelian sapi...
JACK GUEZ / AFP

Masa Pandemi Covid-19, Fasilitas Gadai Bitcoin Mulai Dibutuhkan

👤mediaindonesia.com 🕔Rabu 20 Januari 2021, 17:53 WIB
Nasabah mendapatkan dana tunai dalam waktu singkat dengan cara menggadaikan aset kripto yang dimilikinya, seperti Bitcoin (BTC),...
Antara

PHK di Sektor Manufaktur Paling Tajam, Capai 1,8 Juta Orang

👤Insi Nantika Jelita 🕔Rabu 20 Januari 2021, 17:26 WIB
Direktur Eksekutif  Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Mohammad Faisal membeberkan fakta bahwa selama pandemi, sektor...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya