Selasa 19 November 2019, 18:33 WIB

DNKI Dorong Agen Bank Tingkatkan Inklusi Keuangan

M. Ilham Ramadhan Avisena | Ekonomi
DNKI Dorong Agen Bank Tingkatkan Inklusi Keuangan

Antara/Audy Alwi
Layanan perbankan

 

DEWAN Nasional Keuangan Inklusif (DNKI) terus mendorong peran agen bank untuk meningkatkan inklusi keuangan Indonesia. Sebab agen bank merupakan instrumen penting dalam pemerataan akses masyarakat kepada layanan keuangan formal.

Deputi Bidang Koordinasi Ekonomi Makro dan Keuangan Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Iskandar Simorangkir dalam keterangan resminya, Selasa (19/11), menyebutkan jumlah agen bank mengalami peningkatan yang signifikan.

Sejak program Layanan Keuangan Tanpa Kantor Dalam Rangka Keuangan Inklusif (Laku Pandai) diluncurkan pada 2015, jumlah agen bank naik pesat dalam setahun pertama yang semula 60.000 agen menjadi 1 juta agen.

Meski begitu, imbuh Iskandar, pemerataan akses terhadap layanan keuangan formal harus terus berlanjut demi terwujudnya kesejahteraan masyarakat.

"Mayoritas agen bank di Indonesia, terutama agen Laku Pandai melayani CICO alias isi saldo dan tarik tunai. Dengan adanya layanan ini, masyarakat dapat langsung menyimpan penghasilan dengan aman, serta menarik sebagian dari tabungan kapanpun dibutuhkan," kata Iskandar.

Baca juga : Inklusi Keuangan Melejit Tajam

DNKI, lanjutnya, mendorong peran agen bank untuk lebih agresif melayani masyarakat. "Masyarakat harus bisa mengakses layanan dan produk keuangan formal yang mudah, nyaman dan terjangkau," tutur Iskandar.

Iskandar menambahkan, peranan teknologi finansial (tekfin) harus dimaksimalkan oleh para agen bank untuk mampu memeratakan akses masyarakat terhadap layanan keuangan.

Saat ini, ada lima juta agen tekfin di Indonesia yang dapat diberdayakan untuk menjangkau kelompok-kelompok masyarakat yang selama ini belum terhubung dengan layanan keuangan formal, seperti wanita, petani, dan masyarakat berpenghasilan rendah.

Iskandar yang juga menjabat Ketua Sekretariat DNKI, menegaskan, para pengampu kebijakan dan pelaku industri perlu memberi ruang bagi inovasi, namun di saat yang bersamaan selalu mengantisipasi berbagai resiko yang ada.

"Manajemen resiko perlu tetap dijaga, agar keberlangsungan usaha juga dapat berjalan sustainable," pungkasnya. (OL-7)

Baca Juga

ANTARA FOTO/OLHA MULALINDA

Kemenhub Gelar Program Padat Karya di Sorong

👤Despian Nurhidayat 🕔Sabtu 06 Maret 2021, 11:10 WIB
Program padat karya di KSOP Sorong Papua meliputi kegiatan pengecatan lapangan parkir, pengecatan pagar keliling dan pengecatan...
Antara

Petani Kecewa Impor Beras tetap Dilakukan

👤mediaindonesia.com 🕔Sabtu 06 Maret 2021, 10:27 WIB
Sebelumnya BPS merilis bahwa produksi beras pada tahun ini diperkirakan meningkat tinggi yakni sebesar 4,86 juta hektare atau naik sebesar...
Dok: Medcom.id

Holding Ultra Mikro bukan Akuisisi Tapi Sinergi

👤Despian Nurhidayat 🕔Sabtu 06 Maret 2021, 10:20 WIB
"Jadi aksi korporasi ini bukan BRI mengambil dua perusahaan BUMN itu. Bukan akuisisi, membentuk holding. Jadi upaya untuk tidak...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya