Dalil Tabaruk: Memahami Praktik Mencari Berkah Sahabat dan Ulama Salaf


Penulis: Wisnu Arto Subari - 22 January 2026, 00:31 WIB
Freepik

TABARUK secara etimologi berasal dari kata al-barakah yang berarti tetapnya kebaikan ilahi pada sesuatu atau bertambahnya kebaikan tersebut.

Dalam terminologi syariat, tabaruk adalah mencari kebaikan (berkah) dengan perantara sesuatu yang diciptakan Allah SWT, baik berupa orang, tempat, atau benda yang memiliki kedudukan istimewa di sisi-Nya.

Dasar Hukum Tabaruk dalam Al-Qur'an dan Hadis

Praktik tabaruk memiliki landasan yang kuat dalam sumber primer Islam. Salah satunya tercermin dalam kisah Nabi Yusuf AS ketika beliau mengirimkan bajunya untuk diusapkan ke wajah ayahnya, Nabi Yaqub AS, guna menyembuhkan kebutaannya.

Allah SWT berfirman: "Pergilah kamu dengan membawa bajuku ini, lalu letakkanlah ke wajah ayahku, nanti ia akan melihat kembali..." (QS. Yusuf: 93). Ayat ini menunjukkan bahwa benda yang pernah bersentuhan dengan tubuh seorang Nabi dapat menjadi wasilah bagi datangnya rahmat dan mukjizat Allah.

Praktik Tabaruk para Sahabat kepada Rasulullah SAW

Generasi sahabat adalah orang-orang yang paling memahami tauhid. Namun mereka juga yang paling antusias melakukan tabaruk kepada Rasulullah SAW.

Berikut beberapa dalil autentik yang tercatat dalam kitab Shahih Bukhari dan Shahih Muslim:

1. Berebut Air Bekas Wudhu Nabi

Dalam hadis panjang yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari mengenai Perjanjian Hudaibiyah, Urwah bin Mas'ud menceritakan pengamatannya terhadap para sahabat, "Demi Allah, tidaklah Rasulullah meludah kecuali ludah itu jatuh di telapak tangan salah seorang dari mereka, lalu ia mengusapkannya ke wajah dan kulitnya. Jika beliau berwudhu, mereka hampir berkelahi untuk memperebutkan sisa air wudhunya."

2. Tabaruk dengan Rambut dan Keringat Nabi

Anas bin Malik RA menceritakan bahwa saat Rasulullah SAW mencukur rambutnya di Mina, beliau membagikannya kepada para sahabat. Abu Talhah adalah salah satu yang menerima bagian tersebut. Para sahabat menyimpan rambut tersebut sebagai sarana mencari berkah dan perlindungan dari Allah.

Selain itu, Ummu Sulaim pernah mengumpulkan keringat Nabi SAW saat beliau tidur siang, lalu memasukkannya ke dalam botol parfum. Ketika ditanya oleh Nabi, Ummu Sulaim menjawab, "Ini keringatmu yang kami campurkan ke parfum kami dan ia adalah parfum yang paling wangi. Kami mengharap berkahnya bagi anak-anak kami." Nabi pun mendoakan kebaikan baginya.

Baca juga: Bisakah Melihat Rasulullah secara Terjaga Ini Hadis dan Kisah Ulama

3. Kisah Khalid bin Walid dan Topi Perangnya

Khalid bin Walid, sang pedang Allah, selalu menyelipkan beberapa helai rambut Rasulullah SAW di dalam kopiah (topi perang)-nya. Dalam Perang Yarmuk, topi tersebut jatuh dan beliau sangat gigih mencarinya di tengah pertempuran.

Beliau berkata, "Aku tidak mencarinya karena harga topi itu, tetapi karena di dalamnya terdapat rambut Rasulullah SAW, agar keberkahannya selalu bersamaku sehingga aku tidak terkalahkan."

Baca juga: Surat Al-Qalam Asbabun Nuzul, Keutamaan, dan Kandungan Ayat

Jejak Tabaruk di Kalangan Ulama Salafus Shalih

Tradisi tabaruk tidak berhenti pada masa sahabat, tetapi dilanjutkan oleh para imam mazhab dan ulama salaf dengan penuh kehati-hatian.

Imam Syafi'i dan Gamis Imam Ahmad bin Hanbal

Diriwayatkan dalam kitab Tarikh Dimasyq, Imam Syafi'i pernah mengirim surat kepada muridnya, Imam Ahmad bin Hanbal. Setelah menerima balasan, Imam Syafi'i meminta agar baju yang dipakai Imam Ahmad saat menulis surat tersebut diberikan kepadanya.

Imam Syafi'i kemudian membasahi baju tersebut dengan air dan membasuh airnya ke tubuhnya. Ini sebagai bentuk tabaruk atas kesalihan Imam Ahmad.

Baca juga: Apa saja Persamaan dan Perbedaan Juz 30 dengan Juz 29

Imam Ahmad dan Tabaruk kepada Peninggalan Nabi

Abdullah bin Ahmad bin Hanbal menceritakan, "Aku melihat ayahku (Imam Ahmad) mengambil helai rambut Nabi SAW, meletakkannya di atas matanya, menciumnya, dan mengusapkannya ke tubuhnya demi mengharap kesembuhan dan berkah." Hal ini menunjukkan bahwa ulama yang dikenal sebagai pembela sunnah sekalipun mempraktikkan tabaruk.

Batasan Tabaruk agar Tetap Tauhid

Apakah tabaruk termasuk perbuatan syirik?

Tabaruk menjadi syirik jika seseorang meyakini bahwa benda atau orang tersebutlah yang memberikan manfaat atau mudarat secara mandiri (independen) tanpa kehendak Allah. Namun, jika diyakini hanya sebagai wasilah (perantara) dan Allah-lah sang pemberi berkah, hal itu dibenarkan secara syariat.

Baca juga: Perbedaan Mukjizat, Karamah, Maunah, Sihir, dan Istidraj Beserta Dalilnya

Bolehkah tabaruk kepada orang saleh yang masih hidup?

Boleh. Para sahabat bertabaruk kepada Nabi. Meskipun kedudukan Nabi tidak tertandingi, para ulama membolehkan tabaruk kepada orang saleh (ulama) melalui doa mereka, sisa minuman mereka, atau bersalaman dengan mereka, selama tidak menimbulkan kultus individu yang berlebihan.

Bagaimana cara tabaruk yang benar di era sekarang?

Cara terbaik adalah dengan mencintai para ulama, menghadiri majelis ilmu (tempat turunnya rahmat), dan mengamalkan ilmu yang mereka ajarkan. Menghormati peninggalan sejarah Islam juga diperbolehkan selama tetap menjaga adab dan tidak menyembah objek tersebut.

Baca juga: Penjelasan Ayat Muhkamat dan Mutasyabihat dalam Alquran Lengkap dengan Contoh

Kesimpulan

Tabaruk adalah bagian dari khazanah spiritual Islam yang memiliki landasan dalil yang kuat. Praktik para sahabat dan ulama salaf mengajarkan kita bahwa mencari keberkahan adalah bentuk ekspresi cinta dan penghormatan kepada mereka yang dicintai Allah. Dengan menjaga niat bahwa segala sumber keberkahan berasal dari Allah SWT, tabaruk akan menjadi sarana penguat iman dan penyejuk jiwa bagi setiap mukmin.

PENAFIAN

Artikel ini diolah dan disusun oleh kecerdasan buatan (AI) dan telah melalui proses penyuntingan serta verifikasi fakta oleh redaksi.