Rabu 06 April 2022, 05:35 WIB

Puasa dan Pribadi Unggul

Arif Satria Ketua Umum Ikatan Cendekiawan Muslim Se-Indonesia | Renungan Ramadan
Puasa dan Pribadi Unggul

MI/Seno
Arif Satria Ketua Umum Ikatan Cendekiawan Muslim Se-Indonesia

 

BULAN Ramadan adalah momentum untuk peningkatan kualitas diri. Inilah ‘sekolah’ yang diciptakan Allah SWT agar kaum mukminin punya kesempatan untuk sejenak fokus pada peningkatan kualitas diri, yang tecermin dari kualitas relasi transendental (habluminallah) dan relasi sosial (habluminannas).

Kualitas habluminallah tecermin dari intensitas ibadah kita selama bulan Ramadan. Berbagai aktivitas ibadah sunah, tadarus, dan zikir semakin intensif. Hal ini sekaligus melatih daya spiritualitas kita.

Kualitas spiritualitas tecermin dari kerendahan hati, keikhlasan, kebersihan hati, dan ketenangan jiwa. Alaa bidzikrillahi tathmainnul qulub, yang artinya “Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah, hati menjadi tenteram,” (QS Ar-Ra’du 28). Zikir akan membawa ketenangan dan kebersihan hati. Karena itu, intensitas zikir selama bulan Ramadan akan membersihkan jiwa.

Kualitas habluminannas atau relasi sosial tecermin dari tingkat harmoni. Hulu dari relasi sosial ini ialah kemampuan pengendalian diri. Inilah salah satu hakikat puasa, yakni pengendalian diri baik nafsu biologis maupun emosi. Orang yang berpuasa diharapkan akan mengendalikan diri, yang berarti semakin meningkatkan kecerdasan emosionalnya.

Ada empat komponen kecerdasan emosional menurut Cardon, yaitu self-awareness, self-management, empathy, dan relationship management. Orang berpuasa dilatih untuk mengelola diri hingga bisa berempati pada orang lain dan pada akhirnya mampu menciptakan hubungan baik dengan orang lain. Kemampuan mengelola hubungan dengan orang lain adalah salah satu faktor sukses terpenting dari 100 faktor sukses menurut T Stanley.

Dengan kecerdasan emosional yang baik tersebut akan tercipta silaturahim yang berkualitas. Silaturahim yang berkualitas umumnya memberikan impact.

 Sering kita mendengar bahwa silaturahim mendatangkan rezeki baik yang bersifat material maupun nonmaterial. Hal ini karena silaturahim ialah pintu untuk kolaborasi. Di era 4.0 ini, salah satu skill yang diperlukan ialah kolaborasi. Bahkan Jepang telah menempatkan skill ini masuk dalam Top 2 yang diperlukan. Kolaborasi ialah konsekuensi kita mahluk sosial yang tidak mungkin hidup sendiri-sendiri, tetapi harus dalam suasana interdependensi.

Silaturahim pada akhirnya akan membentuk jejaring. Dalam teori sosiologi, jejaring ini merupakan salah satu komponen modal sosial. Sementara itu, modal sosial ini juga merupakan komponen penting bagi kemajuan sebuah bangsa.

Dengan demikian, puasa bukanlah semata aktivitas fisik tanpa makan-minum. Lebih dari itu puasa ialah instrumen penting dalam membentuk pribadi unggul (yang memiliki kekuatan relasi kepada Allah SWT dan relasi sosial), dan pada akhirnya menjadi komponen untuk masyarakat unggul.

Dengan memahami puasa yang memiliki impact penting ini, tidak hanya umat Islam yang berkepentingan terhadap puasa, tetapi juga seluruh umat manusia di dunia ini. Oleh karena itu, memuliakan puasa dan orang-orang yang sedang berpuasa menjadi keniscayaan.

 

 

Baca Juga

MI/Seno

Merawat Kemabruran Puasa

👤Nasaruddin Umar Imam Besar Masjid Istiqlal 🕔Sabtu 30 April 2022, 04:10 WIB
Akhlak Tuhan dapat dikenal melalui sifat-sifat-Nya sebagaimana tergambar dalam nama-nama indah-Nya (al-asma`...
MI/Seno

Ramadan dan Mudik Lebaran

👤Moh Najib Wakil Ketua Umum MPP ICMI 🕔Jumat 29 April 2022, 04:55 WIB
DI antara keistimewaan Ramadan ialah Ramadan menjadi bulan penghapus...
MI/Duta

Puasa dari Elektabilitas Survei

👤Nadirsyah Hosen Rais Syuriah PCI Nahdlatul Ulama Australia-Selandia Baru 🕔Kamis 28 April 2022, 04:15 WIB
SAAT ini hasil survei menjadi ukuran...

RENUNGAN RAMADAN

CAHAYA HATI


JADWAL IMSAKIYAH
Kamis, 26 Mei 2022 / Ramadan 1443 H
Wilayah Jakarta dan Sekitarnya
Imsyak : WIB
Subuh : WIB
Terbit : WIB
Dzuhur : WIB
Ashar : WIB
Maghrib : WIB
Isya : WIB

PERNIK RAMADAN