SUPER flu merujuk pada influenza A tipe H3N2 subclade K, subclade baru dari virus H3N2 yang sudah lama dikenal. Varian ini pertama kali diidentifikasi oleh CDC Amerika Serikat pada Agustus 2025 dan disebut “super” karena penularannya yang cepat, bukan karena tingkat keganasannya. Gejala super flu umumnya mirip flu musiman, namun pada sebagian pasien dapat terasa lebih berat, seperti demam tinggi hingga 39–41 derajat Celsius, nyeri otot berat, sakit kepala, batuk kering, dan sakit tenggorokan.
Perbedaan utama super flu dan COVID-19 terletak pada virus penyebabnya, yakni influenza A H3N2 subclade K untuk super flu dan SARS-CoV-2 untuk COVID-19. Keduanya sama-sama menular melalui droplet dan aerosol, namun super flu dapat menular bahkan sebelum gejala muncul, dengan satu penderita berpotensi menularkan ke dua hingga tiga orang. Di Indonesia, 62 kasus super flu terdeteksi hingga akhir Desember 2025 sejak pertama kali ditemukan pada Agustus 2025, dengan kasus terbanyak di Jawa Timur, Kalimantan Selatan, dan Jawa Barat. Kelompok paling terdampak adalah anak usia 1–10 tahun, dengan mayoritas kasus terjadi pada perempuan.




