KETEGANGAN global meningkat di berbagai penjuru dunia, mulai dari Asia Selatan hingga Eropa Timur. India dan Pakistan tetap menjadi dua negara paling berisiko memicu konflik nuklir, dengan sejarah panjang pertikaian di Kashmir dan kepemilikan ratusan hulu ledak. Di Asia Timur, ambisi Xi Jinping untuk menyatukan Taiwan semakin berhadapan dengan penolakan publik Taiwan dan ketidakjelasan komitmen Amerika Serikat, menjadikan Selat Taiwan salah satu titik api paling sensitif. Di saat yang sama, Rusia terus menunjukkan keinginan memulihkan pengaruh bekas Uni Soviet, membuat Estonia, Latvia, dan Lithuania sangat rentan serangan ke Baltik dapat mengguncang NATO dan menguji kekuatan tatanan Barat.

Di Asia lainnya, sengketa perbatasan India–Tiongkok tetap menjadi potensi ledakan besar. Garis batas yang disengketakan, patroli intens, dan larangan penggunaan senjata api menciptakan kondisi rawan seperti bentrokan brutal Galwan pada 2020. Sementara itu, Semenanjung Korea terus berada dalam ketidakpastian: Perang Korea belum resmi berakhir, DMZ menjadi salah satu zona paling termiliterisasi, dan Korea Utara yang dipimpin rezim represif kerap menggunakan provokasi untuk mempertahankan kontrol internal. Bersama-sama, lima titik konflik ini menunjukkan betapa rapuhnya stabilitas global dalam beberapa tahun ke depan.