INSIDEN terbaru dalam aksi demonstrasi memicu sorotan tajam pada penggunaan kendaraan taktis (rantis) Brimob. Seorang pengemudi ojek online menjadi korban setelah terlindas rantis yang melaju terlalu dekat dengan kerumunan massa. Secara ideal, rantis dirancang untuk melindungi personel dari serangan, memberi mobilitas pasukan, hingga membantu evakuasi di area berisiko tinggi.
Namun, penyalahgunaan seperti membawa rantis terlalu dekat ke massa, intimidasi berlebihan dalam aksi damai, atau pelanggaran SOP jarak aman justru memunculkan risiko kecelakaan sipil. Dalam perspektif HAM, aturan internasional menegaskan prinsip necessity, proportionality, dan safe conduct. Artinya, kekuatan hanya boleh digunakan bila benar-benar perlu, seimbang dengan ancaman, serta wajib meminimalkan risiko pada warga sipil.