Lindungi Kelompok Rentan dari Tsunami Informasi yang Bisa Mengganggu Kesehatan Mental
ARUS berita geopolitik yang intens dapat menjadi stressor baru, terutama bagi kelompok rentan seperti anak, lansia, penyintas bencana, masyarakat dengan kondisi mental sebelumnya.
Direktur Pelayanan Kesehatan Kelompok Rentan, Imran Pambudi mengatakan dalam merespons fenomena banjir informasi geopolitik yang berdampak pada kesehatan jiwa kelompok rentan perlu menekankan tiga hal utama yakni perlindungan, edukasi, dan intervensi sistemik.
"Masyarakat perlu dibekali kemampuan memilah informasi mana yang benar dan mana yang hoaks, mengenali tanda stres, serta strategi coping sederhana. Narasi publik harus menekankan bahwa reaksi stres adalah wajar, dan ada jalur bantuan yang tersedia," kata Imran saat dihubungi, Minggu (5/4).
Menurutnya khusus kelompok rentan materi komunikasi harus disesuaikan dengan bahasa sederhana, visual yang ramah, dan saluran yang mudah diakses seperti radio komunitas, posyandu, atau pun di sekolah.
Selain itu perlu koordinasi dengan Kominfo, Kemendikdasmen, dan lembaga sosial untuk mengelola arus informasi agar tidak menimbulkan infodemic yang memicu kecemasan massal.
Peran puskesmas dan layanan kesehatan jiwa juga harus dilengkapi dengan protokol deteksi dini gejala stres akibat paparan informasi berlebihan juga layanan konseling cepat tanggap melalui hotline kesehatan jiwa dan tele-counseling harus siap menghadapi lonjakan kasus akibat kecemasan geopolitik.
"Sementara pada kelompok yang pernah mengalami trauma misalnya penyintas konflik atau bencana perlu perhatian khusus karena lebih rentan terhadap trigger dari berita geopolitik," jelasnya.
"Kesehatan jiwa masyarakat adalah aset bangsa. Dalam era banjir informasi, tugas kita bukan hanya mengobati, tetapi juga melindungi. Dengan literasi digital, dukungan komunitas, dan layanan kesehatan jiwa yang inklusif, kita memastikan kelompok rentan tetap kuat menghadapi tekanan global," sambungnya.
Dihubungi terpisah, Anggota Komisi IX DPR RI Irma Suryani Chaniago menilai cara pemerintah merespons situasi geopolitik saat ini juga bisa berdampak secara tidak langsung kepada masalah kesehatan mental masyarakat.
"Saya kira yang membuat stres adalah pertanyaan apakah pemerintah dapat bertahan dalam situasi ekonomi dunia yang makin sulit ini," kata Irma.
Menurutnya masyarakat ikut was-was di setiap keputusan pemerintah terhadap situasi global saat ini yang membuat ekonomi dalam negeri semakin sulit dan berimplikasi daya beli turun, karena harga dan sembako meningkat sementara pendapatan tidak naik bahkan cerderung turun.
"Sebaiknya masyarakat saving, kencangkan ikat pinggang, doakan dan dukung pemerintah agar mampu bertahan," pungkasnya. (H-2)