Angka Obesitas di Indonesia Naik, Usia Produktif Berisiko Alami Gangguan Metabolik


Penulis: Asha Bening Rembulan - 22 March 2026, 11:25 WIB
Freepik

OBESITAS adalah penyakit kronik yang ditandai dengan meningkatnya massa lemak secara berlebihan serta dapat meningkatkan risiko penyakit tidak menular dan dapat menurunkan usia harapan hidup.

Diagnosis obesitas ditentukan berdasarkan Indeks Massa Tubuh (IMT) dan biasanya obesitas memiliki batas massa lemak pada laki-laki sebesar 25% dan perempuan sebesar 35%.

Dalam beberapa dekade terakhir, obesitas telah meluas secara global seiring meningkatnya ketahanan pangan, perkembangan sosial ekonomi, perubahan pola makan, serta aktivitas fisik. 

Faktor-faktor ini kemudian menciptakan lingkungan yang semakin obesogenik dan berkontribusi terhadap krisis kesehatan masyarakat global saat ini.

Berdasarkan data dari World Obesity Atlas pada 2022, Indonesia menempati urutan ke-3 dari 10 negara di Asia Tenggara dengan estimasi prevalensi obesitas tertinggi, baik pada perempuan (14%) maupun laki-laki (8%).

Dari data Survei Kesehatan Indonesia pada 2023 juga menunjukkan bahwa prevalensi obesitas dewasa mencapai 23,4% yang sebelumnya berada di angka 21,8% pada 2018. 

Angka ini mengindikasi bahwa satu dari empat orang dewasa di Indonesia terkena obesitas. Hal ini membawa risiko gangguan metabolik pada usia produktif, yaitu diatas 18 tahun.

Risiko Obesitas bagi Orang Dewasa

Menurut dr. Luciana B. Sutanto MS, Sp.GK, Subsp.PK, obesitas tidak hanya dinilai dari berat badan atau bentuk tubuh, melainkan juga dari komposisi tubuh dan distribusi lemak, terutama lemak di perut.

Obesitas menjadi pintu masuk dari berbagai risiko metabolik, seperti kondisi tekanan darah tinggi, gula darah tinggi, kolesterol abnormal, dan lemak perut berlebih. Kombinasi faktor ini dapat meningkatkan risiko diabetes tipe 2, penyakit jantung, dan stroke.

Penelitian lain juga menunjukkan bahwa obesitas pada usia dewasa dapat meningkatkan risiko terhadap kondisi-kondisi berikut:

  • Kanker
  • Penyakit ginjal kronis
  • Penyakit hati kronis Metabolic Dysfunction-Associated Steatotic Liver Disease (MASLD)
  • Kondisi kesehatan mental
  • Masalah persendian
  • Kondisi pernapasan
  • Masalah kehamilan
  • Hipertensi intrakranial idiopatik
  • Gangguan fungsi imun

Cara Mencegah Obesitas

Pendekatan pengelolaan obesitas tidak bisa diseragamkan. Pendekatan nutrisi medis berbasis gizi seimbang dan kondisi metabolik individu menjadi kunci keberhasilan jangka panjang.

Obesitas sangat mungkin dicegah dengan menerapkan perilaku hidup sehat, misalnya, mengonsumsi makanan berkandungan protein dibandingkan karbohidrat dalam satu piring sekali makan.

Masyarakat, terutama usia produktif, dapat menjaga berat badan ideal, memahami kebutuhan gizi harian, dan membangun gaya hidup sehat secara konsisten sejak dini. Langkah diet instan juga dapat dihindari karena berisiko menimbulkan kekurangan gizi dan hanya akan memperburuk metabolisme.

Berikut adalah tips untuk mencegah obesitas bagi usia produktif:

  • Mengonsumsi setidaknya lima porsi buah dan sayuran setiap hari
  • Berolahraga secara rutin
  • Mengonsumsi air putih sebanyak enam hingga delapan gelas setiap hari
  • Gunakan panduan diet Indonesia/Isi Piringku dalam memilih makanan sehari-hari
  • Mengurangi konsumsi makanan tinggi lemak, gula, dan garam (Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, World Health Organization, UNICEF/Z-1)