Menjaga Performa Ginjal Selama Ramadan: Kiat Hidrasi dan Nutrisi dari Pakar
MENJAGA kesehatan organ dalam, terutama ginjal, menjadi tantangan tersendiri saat menjalankan ibadah puasa. Perubahan pola makan dan minum yang drastis dapat meningkatkan risiko dehidrasi jika tidak dikelola dengan tepat.
Dokter spesialis penyakit dalam konsultan ginjal-hipertensi lulusan Universitas Hasanuddin, dr. Dina Nilasari, Ph.D, Sp.PD, KGH, membagikan sejumlah langkah strategis bagi masyarakat agar tetap bugar dan fungsi ginjal tetap optimal selama bulan suci.
Manajemen Hidrasi yang Disiplin
Kunci utama menjaga kesehatan ginjal terletak pada pemenuhan cairan yang cukup. Dina menegaskan bahwa momen sahur dan berbuka adalah kesempatan krusial yang tidak boleh terlewatkan untuk menghidrasi tubuh.
“Menjaga kesehatan ginjal selama bulan puasa itu dengan minum yang cukup. Tentunya pada saat sahur dan berbuka tidak boleh kita melewatkannya ya,” ujar Dina, dikutip Sabtu (28/2).
Ia menjelaskan bahwa rutin meminum air sebanyak 2 liter per hari atau setara dengan 8 gelas adalah kewajiban untuk menghindari risiko dehidrasi.
Masyarakat perlu membagi asupan ini secara merata sejak waktu berbuka hingga sahur kembali tiba.
Cerdas Memilih Minuman: Utamakan Serat, Hindari Kafein
Selain air putih, pemenuhan cairan dapat dibantu melalui konsumsi buah-buahan utuh atau jus buah.
Namun, Dina memberikan catatan penting mengenai cara pengolahan jus. Ia menyarankan agar jus dikonsumsi bersama ampasnya (serat) untuk mengontrol penyerapan gula.
“Jus usahakan jangan yang hanya air saja tapi dengan ampasnya. Karena yang hanya air saja itu juga gula, sama saja dengan kita meminum gula,” tegasnya.
Dina juga mengimbau masyarakat untuk membuat jus secara mandiri agar kebersihan dan kandungan gizinya terjamin.
Ia melarang penambahan gula pasir atau pemanis buatan seperti sakarin yang dalam penelitian dikaitkan dengan risiko kanker. Sebagai alternatif alami, penggunaan Stevia masih diperbolehkan.
Lebih lanjut, ia memberikan peringatan khusus mengenai konsumsi kopi dan teh saat sahur. Kandungan kafein dalam minuman tersebut bersifat diuretik, yang memicu peningkatan produksi urine.
Kondisi ini membuat frekuensi buang air kecil lebih sering dan volume urine lebih banyak, sehingga mempercepat risiko dehidrasi di siang hari.
Pola Makan Sehat
Di samping pengaturan cairan, pemilihan menu makanan juga memegang peranan penting. Masyarakat dianjurkan memperbanyak konsumsi sayur dan buah yang kaya mineral. Sebaliknya, makanan yang mengandung tepung, gorengan, dan kue-kue manis sebaiknya dibatasi.
Meski demikian, masyarakat tidak perlu khawatir kehilangan asupan manis saat berbuka.
“Tapi kalau misalnya kurma itu dimakan sampai tiga butir itu masih tidak ada masalah,” pungkas Dina. (Ant/Z-1)