Kurang Aktivitas Fisik Tingkatkan Risiko Demensia Usia Muda
MINIMNYA aktivitas fisik disebut sebagai salah satu faktor risiko yang dapat meningkatkan kemungkinan seseorang mengalami demensia atau Alzheimer usia muda, yakni kondisi neurodegeneratif yang ditandai dengan kerusakan sel-sel saraf di otak secara bertahap. Kerusakan ini dapat mengganggu fungsi kognitif seperti daya ingat, kemampuan berpikir, hingga perilaku.
Anggota Divisi Edukasi Alzheimer Indonesia, dr. Muhana Fawwazy Ilyas menjelaskan bahwa kurangnya aktivitas fisik tidak hanya berdampak pada kesehatan tubuh, tetapi juga berkontribusi terhadap penurunan fungsi otak seiring bertambahnya usia.
Faktor Risiko Demensia
Menurutnya, terdapat sejumlah mekanisme yang membuat gaya hidup kurang aktif dapat meningkatkan risiko demensia. Salah satunya adalah penurunan aliran darah ke otak. Aktivitas fisik berperan penting dalam menjaga kesehatan jantung dan pembuluh darah.
"Ketika tubuh jarang bergerak, sirkulasi darah ke otak dapat terganggu sehingga suplai oksigen dan nutrisi yang dibutuhkan untuk mempertahankan fungsi kognitif menjadi berkurang," ungkap Muhana dikutip Kamis (19/2).
Selain itu, gaya hidup sedentari juga meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular seperti hipertensi, diabetes, dan obesitas. Berbagai penyakit tersebut diketahui menjadi faktor risiko utama demensia karena dapat mempercepat proses degenerasi yang merusak sel-sel otak.
Kurangnya aktivitas fisik juga berdampak pada minimnya stimulasi terhadap otak. Aktivitas yang melibatkan koordinasi dan keseimbangan, seperti berjalan atau berlari, dapat merangsang produksi neurotropin, yakni zat kimia yang mendukung pertumbuhan serta perbaikan sel saraf. Tanpa stimulasi tersebut, proses neurodegeneratif dapat berlangsung lebih cepat.
Di sisi lain, kurang bergerak juga dapat memicu peradangan kronis dalam tubuh. Kondisi ini berpotensi meningkatkan akumulasi protein beta-amiloid di otak, yang merupakan salah satu penyebab utama penyakit Alzheimer sebagai jenis demensia yang paling umum.
Meski belum ada cara pasti untuk mencegah demensia, Muhana menekankan bahwa peningkatan aktivitas fisik secara rutin dapat membantu menurunkan risikonya.
Ia menyarankan masyarakat untuk mulai menerapkan kebiasaan sederhana seperti berjalan kaki selama 30 menit setiap hari, minimal lima kali dalam seminggu, guna meningkatkan sirkulasi darah ke otak dan menjaga fungsi kognitif.
Latihan keseimbangan dan kekuatan seperti yoga, tai chi, atau senam lansia juga dapat dilakukan untuk meningkatkan stabilitas tubuh sekaligus mendukung kesehatan otak. Selain itu, aktivitas fisik yang menyenangkan seperti menari, berkebun, maupun bermain bersama keluarga dapat menjadi alternatif untuk tetap aktif.
“Bergabung dengan komunitas olahraga atau klub sosial juga dapat membantu meningkatkan motivasi untuk beraktivitas fisik secara teratur,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan pentingnya mengurangi waktu duduk yang berlebihan dengan berdiri atau berjalan setiap satu jam sekali, khususnya bagi individu yang banyak menghabiskan waktu di depan layar komputer.
Dengan menerapkan gaya hidup aktif, masyarakat diharapkan dapat memperlambat penurunan fungsi kognitif, menjaga kesehatan mental, serta meningkatkan kualitas hidup di usia lanjut. Oleh karena itu, upaya menjaga tubuh tetap aktif menjadi langkah penting dalam menjaga kesehatan otak secara menyeluruh. (H-4)