Mengenal Potensi Rebung Sebagai Superfood: Manfaat Kesehatan hingga Risiko racun
TUNAS bambu, atau yang lebih dikenal sebagai rebung di Indonesia, ternyata bukan sekadar pelengkap hidangan yang renyah. Sebuah tinjauan akademis komprehensif terbaru mengungkapkan rebung memiliki potensi besar sebagai "superfood" yang mampu mengontrol gula darah, menjaga kesehatan jantung, hingga mendukung kesehatan pencernaan.
Penelitian yang dilakukan para ahli dari Anglia Ruskin University (ARU) di Inggris ini merupakan tinjauan pertama yang merangkum seluruh penelitian yang ada mengenai konsumsi bambu. Tinjauan itu baik melalui uji coba pada manusia maupun eksperimen laboratorium.
Kaya Nutrisi dan Pendukung Metabolisme
Rebung dikenal sebagai salah satu tanaman dengan pertumbuhan tercepat di dunia. Di balik pertumbuhannya yang pesat, tersimpan profil nutrisi yang luar biasa. Rebung kaya akan protein, serat moderat, dan rendah lemak. Selain itu, tanaman ini mengandung asam amino esensial, mineral seperti selenium dan kalium, serta vitamin A, B6, dan E.
Dalam uji klinis pada manusia, para peneliti menemukan konsumsi rebung dapat meningkatkan kontrol glikemik. Hal ini menjadikannya pilihan potensial untuk membantu mengatur kadar gula darah, terutama bagi penderita diabetes. Selain itu, perbaikan pada profil lipid (lemak darah) juga teramati, yang berkontribusi pada penurunan risiko penyakit kardiovaskular.
Manfaat untuk Pencernaan dan Keamanan Pangan
Kandungan serat makanan seperti selulosa dan lignin dalam rebung terbukti mampu meningkatkan fungsi usus. Penelitian laboratorium bahkan menunjukkan adanya efek probiotik yang mendukung pertumbuhan bakteri baik di usus.
Menariknya, senyawa dalam bambu ditemukan dapat menghambat pembentukan furan dan mengurangi produksi akrilamida. Keduanya adalah bahan kimia beracun yang biasanya terbentuk saat makanan digoreng atau dipanggang pada suhu tinggi. Ini menunjukkan potensi rebung untuk membuat makanan olahan menjadi lebih aman.
Peringatan: Jangan Dimakan Mentah
Meski kaya manfaat, para peneliti memberikan catatan penting mengenai faktor keamanan. Beberapa spesies bambu mengandung glikosida sianogenik yang dapat melepaskan racun sianida jika dimakan mentah atau tidak diolah dengan benar.
Selain itu, terdapat senyawa yang dapat mengganggu produksi hormon tiroid yang berisiko menyebabkan penyakit gondok. Namun, risiko ini dapat dihilangkan sepenuhnya dengan teknik perebusan awal (pre-boiling) yang tepat sebelum rebung dikonsumsi atau diolah lebih lanjut.
Masa Depan Bambu sebagai Pangan Dunia
Lee Smith, Profesor Kesehatan Masyarakat di Anglia Ruskin University sekaligus penulis senior studi ini, optimis terhadap potensi bambu di masa depan.
"Bambu sudah umum dikonsumsi di sebagian wilayah Asia dan memiliki potensi besar untuk menjadi tambahan makanan yang sehat dan berkelanjutan di seluruh dunia, namun harus disiapkan dengan benar," ujar Smith.
Ia menambahkan berbagai manfaat kesehatan yang diidentifikasi, termasuk potensi untuk mengatasi tantangan kesehatan modern seperti diabetes dan penyakit jantung, kemungkinan besar berasal dari kandungan nutrisi bambu yang melimpah.
"Tinjauan kami menunjukkan janji yang jelas dari bambu sebagai kemungkinan 'superfood', tetapi masih ada celah dalam pengetahuan kita. Kami hanya menemukan empat penelitian melibatkan partisipan manusia yang memenuhi kriteria, sehingga diperlukan uji coba manusia berkualitas tinggi tambahan sebelum kami dapat memberikan rekomendasi yang kuat," pungkasnya. (Science Daily/Z-2)