MOJTABA Khamenei resmi menggantikan ayahnya, Ali Khamenei, sebagai Pemimpin Tertinggi Iran dan menjadi pemimpin ketiga sejak Iranian Revolution. Suksesi ayah ke anak ini memicu kritik karena dianggap menyerupai sistem dinasti yang bertentangan dengan semangat revolusi yang menolak monarki. Meski tidak pernah memegang jabatan resmi, Mojtaba dikenal memiliki pengaruh kuat di lingkar dalam kekuasaan Iran.

Status keulamaannya juga dipertanyakan karena sebelumnya dikenal sebagai ulama tingkat menengah sebelum belakangan disebut sebagai Ayatollah. Namanya pernah dikaitkan dengan kontroversi pemilu 2005 dan 2009. Mojtaba lahir di Mashhad pada 8 September 1969, pernah terlibat dalam perang Iran–Iraq, dan menempuh studi agama di Qom sejak 1999 sebelum dikenal sebagai figur berpengaruh di balik layar kekuasaan Iran.