SEORANG siswa kelas IV SD berinisial YBS/YBR di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur, meninggal dunia dan diduga bunuh diri. Korban disebut putus asa setelah tidak mampu membeli buku tulis dan pulpen seharga kurang dari Rp10.000. Polisi menemukan surat tulisan tangan yang diduga ditulis korban sebelum meninggal, berisi pesan perpisahan kepada sang ibu dan permintaan agar ibunya tidak menangis. Peristiwa ini menyoroti rapuhnya kondisi anak di tengah kemiskinan dan keterbatasan perlindungan.
Kasus YBS/YBR menambah deret bunuh diri anak di Indonesia. Data KPAI mencatat 46 kasus pada 2023, 43 kasus pada 2024, dan 25 kasus pada 2025. Sejumlah peristiwa serupa terjadi di Cirebon, Sikka, Sukabumi, dan Garut, dengan latar tekanan psikologis, perundungan, tuntutan akademik, serta kemiskinan. Tragedi ini menjadi alarm nasional bahwa pencegahan harus menyasar pemenuhan kebutuhan dasar, kesehatan mental, dan lingkungan aman bagi anak.



