CURAH hujan tinggi masih mengguyur wilayah Pekalongan sejak pertengahan Januari 2026, memicu banjir yang kembali meluas di sejumlah kawasan. Puncak musim hujan menjadi periode paling rawan, dengan genangan merendam permukiman warga, fasilitas umum, hingga jalur transportasi utama. Pemerintah Kota Pekalongan pun menetapkan status Tanggap Darurat Bencana Banjir seiring meningkatnya jumlah warga terdampak. Salah satu wilayah yang mengalami dampak parah adalah Dukuh Tugurejo, Desa Pait, Kecamatan Siwalan, Kabupaten Pekalongan.
Banjir yang terus berulang menunjukkan kerentanan struktural wilayah Pekalongan. Topografi yang rendah, sedimentasi serta penyempitan sungai, ditambah kondisi tanggul dan saluran pengendali banjir yang rentan, membuat luapan air sulit dikendalikan saat hujan deras. Dampaknya, 1.472 warga Kota Pekalongan mengungsi di 12 lokasi, sementara di Kabupaten Pekalongan 90 KK atau 285 jiwa terdampak, termasuk lansia dan bayi. Banjir juga mengganggu mobilitas, dengan jalur rel Pekalongan–Sragi tergenang dan 82 perjalanan kereta api dibatalkan, termasuk 11 KA dari Stasiun Pasar Senen dan Gambir.



