KONFLIK Thailand dan Kamboja kembali memanas pada 2025, berakar dari sengketa perbatasan yang sudah berlangsung sejak era kolonial Prancis. Ketegangan memuncak pada Juli 2025 ketika seorang tentara Thailand terluka akibat ranjau, disusul serangan roket dari Kamboja dan balasan udara dari Thailand. Gencatan senjata kemudian tercapai lewat mediasi Malaysia dan Donald Trump, namun kesepakatan itu rapuh sejak awal. Situasi kembali bergejolak pada Desember 2025.
Konflik sulit padam karena kedua negara semakin mengandalkan kekuatan militer, sementara kepercayaan telah runtuh total akibat insiden ranjau dan tuduhan saling serang sepanjang tahun. Thailand menuntut penghentian ranjau, penarikan pasukan Kamboja dari bukit strategis, serta jaminan keamanan wilayah perbatasan, sekaligus menjadikan penahanan 18 tentara Kamboja sebagai alat tawar. Di sisi lain, Kamboja menginginkan pengakuan atas wilayah yang diklaimnya, tekanan internasional terhadap Thailand, serta pembebasan tentaranya. Dengan tuntutan yang saling bertolak belakang, jalan menuju deeskalasi tampak semakin rumit.




