BANJIR di Sumatra dan banjir rob di Jakarta memiliki karakter berbeda, namun risiko yang ditimbulkannya sama besar. Banjir Sumatra dipicu hujan ekstrem, luapan sungai, dan kondisi geografis perbukitan, sedangkan rob Jakarta muncul akibat kombinasi penurunan tanah, pasang laut, serta infrastruktur pesisir yang belum memadai. Meski penyebabnya tidak sama, skala dampaknya bisa sebanding, mulai dari kerugian ekonomi, gangguan aktivitas warga, hingga tekanan sosial bagi masyarakat yang tinggal di kawasan rawan.
Dalam skenario terburuk tanpa intervensi signifikan, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memprediksi sepertiga wilayah Jakarta Utara dapat tenggelam permanen pada 2050, dengan intrusi rob yang mampu menjangkau 4 hingga 5 kilometer dari garis pantai. Infrastruktur pesisir yang belum optimal, seperti tanggul darat yang rusak atau sementara serta proyek National Capital Integrated Coastal Development (NCICD) yang masih awal, membuat risiko bencana semakin tinggi. Walau genangan di beberapa titik, seperti Jalan RE Martadinata dekat Jakarta International Stadium (JIS), kini mulai surut dengan sisa 3–5 sentimeter, jejak rob masih terasa dan menunjukkan bahwa ancaman ini bersifat berulang serta berpotensi membesar hingga level bencana seperti di Sumatra.




