PEMERINTAH Provinsi Jawa Barat resmi menggulirkan proyek Kilat Pajajaran, kereta cepat berbasis jalur konvensional yang menargetkan waktu tempuh Jakarta–Bandung hanya 1,5 jam. Dengan kajian dimulai pada 2026 dan konstruksi 2027, layanan ini ditargetkan beroperasi pada 2030. Proyek senilai Rp8 triliun ini digadang-gadang sebagai moda tercepat kedua setelah Whoosh, menawarkan opsi perjalanan cepat dengan biaya yang diperkirakan lebih terjangkau. Pemprov Jabar menegaskan bahwa investasi besar ini merupakan bagian dari transformasi transportasi regional, sekaligus perluasan konektivitas hingga Garut, Tasikmalaya, dan Banjar. Namun kehadiran Kilat Pajajaran memantik perdebatan panjang karena berpotensi bersinggungan langsung dengan Whoosh di koridor yang sama. Sejumlah analis mengingatkan risiko kanibalisme pasar, pemborosan anggaran, serta tantangan teknis seperti kebutuhan pembangunan terowongan baru. Jika segmentasi layanan, tarif, dan integrasi tidak dirancang dengan matang, kedua moda cepat ini justru dapat saling menggerus di tengah pasar yang belum stabil. Meski begitu, jika diarahkan dengan strategi yang solid, Kilat Pajajaran dapat menjadi alternatif transportasi massal yang lebih inklusif sekaligus memperkuat konektivitas Jawa Barat. 

Sumber: Pemprov Jabar/KAI/Litbang MI