ASAL-usul rencana damai Rusia–Ukraina kembali memicu perdebatan setelah sejumlah politisi Amerika Serikat menilai bahwa proposal 28 poin tersebut bukan disusun oleh pemerintahan Donald Trump, melainkan berasal dari Moskow. Para senator mengaku mendapatkan penjelasan dari Menteri Luar Negeri Marco Rubio yang dikatakan menyebut dokumen itu sebagai “daftar keinginan Rusia”. Senator Mike Rounds bahkan menilai isi proposal itu tampak seperti “ditulis dalam bahasa Rusia”, sementara Angus King menyebutnya bukan rencana resmi pemerintah AS. Namun Departemen Luar Negeri AS membantah keras seluruh klaim tersebut dan menegaskan bahwa tuduhan itu “sepenuhnya keliru”.
Kecurigaan semakin menguat setelah laporan bahwa utusan Trump, Steve Witkoff, dan Jared Kushner bertemu dengan Kirill Dmitriev—sekutu dekat Vladimir Putin yang berada dalam daftar sanksi AS—di Miami untuk membahas rancangan awal proposal. Isi dokumen yang menuntut Ukraina menyerahkan wilayah ke Rusia, dilarang bergabung NATO, serta membatasi kapasitas militernya juga dinilai sangat sejalan dengan kepentingan Moskow. Kesamaan ini memicu dugaan bahwa Rusia memiliki pengaruh dalam perumusan draft awal, meski Moskow dan Washington sama-sama membantah menjadi penyusunnya.




