SEJARAH panjang aktivitas Gunung Semeru menunjukkan bahwa gunung tertinggi di Jawa ini tak pernah benar-benar tidur. Catatan pertama pada 1818 menggambarkan letusan berupa semburan asap pekat dan suara gemuruh dari kawah puncak. Aktivitas meningkat pada 1941–1942 dengan hujan abu dan luncuran lava yang terjadi berulang selama beberapa bulan. Memasuki periode 1963–1967, Semeru meletus hampir setiap tahun dengan intensitas bervariasi, menghadirkan lava pijar dan abu yang mencapai permukiman. Puncaknya pada 1977, erupsi besar memicu aliran lahar yang merusak lahan pertanian dan memutus akses desa, disusul kejadian 1994 ketika awan panas kembali meluncur ke lereng dan memaksa penutupan sementara kawasan wisata Ranu Pane.

Memasuki abad ke-21, dinamika Semeru terus menunjukkan pola aktivitas tinggi. Pada 2002–2003, erupsi efusif membentuk kubah lava baru di Jonggring Saloko, meningkatkan guguran material ke Curah Kobokan—zona yang kemudian menjadi episentrum dampak erupsi besar 2021 yang menimbulkan korban jiwa dan menghancurkan permukiman. Aktivitas fluktuatif berlanjut sepanjang 2022–2023 dengan guguran lava dan awan panas skala kecil hingga sedang. Memasuki 2024–2025, tekanan magmatik meningkat dan memicu letusan sporadis, sebelum akhirnya memuncak pada erupsi besar 19 November 2025. Rangkaian peristiwa ini menegaskan bahwa Semeru adalah gunung dengan siklus erupsi aktif yang harus terus dipantau.