VAROSHA, atau Maraş, pernah menjadi permata mewah di Famagusta, Cyprus Utara. Pada era 1970-an, kawasan ini adalah destinasi paling glamor di Mediterania. Dengan 45 hotel, 3.000 properti komersial, dan populasi mencapai 25.000 jiwa, Varosha menjadi simbol kejayaan pariwisata Cyprus sebelum situasi berubah drastis.

Pada Juli 1974, kudeta pro-Yunani memicu intervensi militer oleh Turki, memaksa seluruh penduduk Varosha mengungsi dalam hitungan jam. Area itu kemudian dipagari dan ditutup ketat oleh militer, menjadikannya kota hantu yang membeku dalam waktu. Upaya pembukaan kembali dimulai pada 2020, namun menuai kontroversi. Meski sebagian wilayah kembali dibuka untuk publik dan sejumlah hotel direnovasi, dorongan Turkish Republic of Northern Cyprus (TRNC) atau Republik Turki Siprus Utara—entitas yang hanya diakui oleh Turki—untuk melakukan redevelopment pada 2024–2025 ditentang keras oleh Cyprus Selatan dan Uni Eropa yang menilai langkah tersebut melanggar hukum internasional.