INDONESIA punya sejarah panjang di panggung Sidang Umum Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB), dimulai dari pidato legendaris Soekarno pada 1960 berjudul “To Build the World Anew” yang mengecam kolonialisme dan menyerukan perdamaian dunia. Sejak itu, setiap presiden memiliki gaya dan pesan berbeda: Soeharto menekankan pembangunan ekonomi dan stabilitas kawasan, Habibie membawa isu transisi demokrasi dan Timor Timur, sementara Gus Dur menyoroti pluralisme serta rekonsiliasi nasional. Megawati berbicara soal terorisme global pasca-9/11, lalu Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) tampil paling konsisten dengan isu perubahan iklim, demokrasi, hingga pembangunan global.
Berbeda dari para pendahulunya, Jokowi justru tidak pernah hadir langsung di podium PBB dan selalu diwakilkan Menlu Retno Marsudi, termasuk saat pandemi 2020 di mana ia hanya menyampaikan pidato rekaman. Kini, Prabowo Subianto dijadwalkan tampil perdana di Sidang Umum PBB 2025. Kehadirannya menjadi sorotan karena akan membuka era baru diplomasi Indonesia, dengan isu potensial seputar ketahanan pangan, energi, perdamaian, hingga geopolitik global yang semakin dinamis.




