Ilmuwan Temukan Fosil Telur Raksasa Berusia 68 Juta Tahun di Antarktika
PARA ilmuwan menemukan sebuah fosil telur raksasa berusia sekitar 68 juta tahun di Antarktika yang memberikan petunjuk baru tentang cara berkembang biak reptil purba pada masa dinosaurus. Penemuan ini mengungkap bahwa beberapa reptil laut raksasa kemungkinan bertelur, bukan melahirkan anak secara langsung.
Mengutip dari laman earth.com, Telur fosil tersebut dijuluki “The Thing” oleh para peneliti karena bentuknya yang tidak biasa. Telur ini memiliki panjang sekitar 11 inci (sekitar 28 cm) dan lebar 8 inci (sekitar 20 cm). Dengan ukuran tersebut, fosil ini tercatat sebagai telur bercangkang lunak terbesar yang pernah ditemukan, sekaligus menjadi telur terbesar kedua yang diketahui dari semua jenis hewan purba.
Fosil itu ditemukan di Pulau Seymour, Antarktika, wilayah yang pada masa Kapur Akhir sekitar 68 juta tahun lalu memiliki iklim jauh lebih hangat dibandingkan sekarang.
Awalnya Tidak Disangka Sebagai Telur
Ketika pertama kali ditemukan, fosil ini bahkan tidak terlihat seperti telur. Benda tersebut tampak seperti objek lembek dan terlipat yang terkubur dalam sedimen, sehingga para peneliti mengira bentuknya menyerupai kantong yang kempis.
Namun, setelah diperiksa menggunakan mikroskop, para ilmuwan menemukan bahwa fosil tersebut memiliki dinding yang sangat tipis, hanya sebagian kecil dari satu milimeter. Struktur dindingnya juga tidak memiliki pori-pori yang jelas. Sebaliknya, bagian dalamnya menunjukkan lapisan-lapisan tipis yang bertumpuk, sehingga teksturnya lebih mirip telur kadal atau ular modern dibandingkan telur dinosaurus yang umumnya bercangkang keras.
Penelitian ini dipimpin oleh ahli paleontologi Lucas Legendre dari University of Texas at Austin, Amerika yang meneliti evolusi telur fosil serta sistem reproduksi reptil purba.
Tim peneliti kemudian memberi nama ilmiah Antarcticoolithus bradyi pada fosil tersebut. Berdasarkan rekonstruksi bentuknya, mereka menyimpulkan bahwa cangkang telur kemungkinan runtuh setelah menetas, sehingga fosilnya kini tampak seperti kantong kosong yang mengempis.
Menunjukan Cara Reptil Laut Berkembang Biak
Sebelum penemuan ini, para ilmuwan umumnya percaya bahwa reptil laut besar seperti mosasaurus melahirkan anak secara langsung (mamalia) di laut.
Pandangan tersebut muncul dari penelitian sebelumnya yang menemukan tengkorak bayi mosasaurus di batuan laut terbuka, yang menunjukkan bahwa hewan ini mungkin melahirkan tanpa harus naik ke daratan.
Namun, penemuan telur ini mengubah pandangan tersebut. Cangkangnya yang tipis dan lentur menunjukkan bahwa sebagian reptil laut mungkin menggunakan strategi reproduksi campuran.
Dalam strategi ini, induk kemungkinan menyimpan embrio hampir hingga siap menetas, lalu melepaskan telur bercangkang lunak yang segera menetas di dalam air.
Diduga Milik Predator Laut Raksasa
Di lokasi yang sama dengan penemuan telur, para peneliti juga menemukan tulang dari Kaikaifilu hervei, salah satu spesies mosasaurus besar yang hidup di wilayah tersebut.
Hewan ini diperkirakan memiliki panjang sekitar 33 kaki atau sekitar 10 meter, menjadikannya salah satu predator puncak terbesar di lautan Antarktika pada masa itu.
Berdasarkan perbandingan dengan 259 spesies reptil modern, ilmuwan memperkirakan induk dari telur tersebut memiliki panjang lebih dari 23 kaki. Ukuran ini masih sesuai dengan kisaran tubuh mosasaurus tersebut.
Kesesuaian ukuran dan kedekatan lokasi fosil membuat Kaikaifilu hervei menjadi kandidat kuat sebagai hewan yang kemungkinan meletakkan telur itu, meskipun hubungan tersebut belum dapat dipastikan sepenuhnya.
Selain itu, wilayah yang sama juga menyimpan fosil tulang mosasaurus muda dan plesiosaurus, yaitu reptil laut berleher panjang dengan sirip. Hal ini mengindikasikan bahwa daerah tersebut kemungkinan berfungsi sebagai tempat berkembangnya anak-anak reptil laut.
Selama beberapa dekade, hampir semua telur fosil dari dinosaurus dan reptil purba yang ditemukan memiliki cangkang keras yang kaya mineral. Hal ini membuat ilmuwan beranggapan bahwa telur bercangkang keras merupakan bentuk awal dari telur dinosaurus.
Namun, penelitian terbaru menunjukkan gambaran yang berbeda.
Analisis terhadap telur dinosaurus pemakan tumbuhan seperti Protoceratops dan Mussaurus menunjukkan bahwa telur mereka sebenarnya memiliki cangkang lembut dan fleksibel, bukan keras seperti telur burung.
Temuan tersebut menunjukkan bahwa telur bercangkang lunak kemungkinan sudah ada sejak dinosaurus awal. Sedangkan, cangkang keras berkembang secara terpisah pada beberapa garis keturunan.
Penemuan telur di Antarktika ini semakin memperluas pemahaman tersebut, karena menunjukkan bahwa reptil laut raksasa yang hidup di dekat kutub juga kemungkinan bertelur dengan cangkang lunak.
Telur bercangkang lunak jarang sekali menjadi fosil karena mudah hancur oleh bakteri atau pemangsa. Fosil ini dapat bertahan karena kemungkinan segera tertimbun oleh lapisan lumpur dan pasir di laut dangkal, sehingga terlindungi dari kerusakan.
Pada masa itu, Antarktika memiliki iklim yang lebih hangat dan pesisir yang bebas es, dengan lautan yang kaya kehidupan. Lingkungan sedimen yang stabil membuat dasar laut di sekitar Pulau Seymour menjadi tempat yang mampu mengawetkan sisa-sisa organisme yang rapuh selama jutaan tahun.
Penemuan ini memberikan gambaran penting tentang bagaimana kehidupan awal reptil laut raksasa dimulai, sekaligus membantu ilmuwan memahami hubungan antara jenis telur, perilaku reproduksi, dan lingkungan tempat hidup hewan purba.
Sumber: earth.com.