Bumi tidak Bulat Sempurna! Lubang Gravitasi di Antartika Makin Kuat, Apa Dampaknya


Penulis:  Gana Buana - 21 February 2026, 19:46 WIB
Freepik

BUMI sering kali digambarkan sebagai bola biru yang sempurna. Namun, bagi para geofisika, planet kita lebih menyerupai "kentang bergelombang" yang penuh dengan tonjolan dan cekungan gravitasi. Salah satu temuan paling mengejutkan di awal tahun 2026 ini adalah laporan mengenai menguatnya "Lubang Gravitasi" di bawah benua Antartika.

Fenomena yang secara ilmiah disebut sebagai Antarctic Geoid Low (AGL) ini bukan sekadar anomali kosmik, melainkan kunci untuk memahami bagaimana bagian dalam Bumi mengatur permukaan laut dan stabilitas es di kutub selatan.

Apa Itu Lubang Gravitasi Antartika?

Lubang gravitasi bukanlah lubang fisik yang bisa Anda lihat atau masuki. Ini adalah wilayah di mana tarikan gravitasi Bumi jauh lebih lemah dibandingkan wilayah lainnya. Hal ini terjadi karena distribusi massa di dalam perut Bumi tidak merata. Di bawah Antartika, massa batuan di mantel Bumi lebih rendah, sehingga daya tariknya terhadap benda di permukaan, termasuk air laut, menjadi berkurang.

Berdasarkan studi terbaru yang diterbitkan dalam jurnal Scientific Reports (Februari 2026), para peneliti yang dipimpin oleh Profesor Alessandro Forte dari University of Florida mengungkapkan bahwa anomali ini telah ada setidaknya selama 70 juta tahun.

Jika berat badan Anda 90 kg, Anda akan "kehilangan" berat sekitar 5-6 gram saat berada di pusat lubang gravitasi ini karena tarikan Bumi yang sedikit lebih lemah.

Mengapa Air Laut Bergeser?

Prinsip gravitasi sangat sederhana: air akan selalu mengalir ke tempat dengan tarikan gravitasi yang lebih kuat. Karena gravitasi di Antartika sangat lemah, air laut secara alami "menjauh" dari wilayah tersebut dan bergeser ke area dengan massa geologi yang lebih padat.

Dampaknya, permukaan laut di sekitar Antartika sebenarnya lebih rendah dibandingkan rata-rata global. Namun, penelitian terbaru menunjukkan bahwa lubang gravitasi ini menguat sekitar 30% dalam 35 juta tahun terakhir. Penguatan ini bertepatan dengan periode di mana Antartika mulai membeku dan membentuk lapisan es raksasa.

Penyebab di Balik Mantel Bumi

Para ilmuwan menggunakan data gelombang seismik dari gempa bumi untuk melakukan "CT Scan" terhadap interior planet. Hasilnya menunjukkan dua proses utama:

  • Subduksi Lempeng: Sisa-sisa lempeng tektonik kuno yang tenggelam jauh ke dalam mantel di bawah Antartika.
  • Upwelling Mantel: Naiknya material panas dan ringan dari kedalaman Bumi yang menciptakan "kekosongan" massa di bawah benua es tersebut.

People Also Ask: Pertanyaan Umum Seputar Lubang Gravitasi

1. Apakah lubang gravitasi ini berbahaya bagi manusia?

Sama sekali tidak. Perbedaan gravitasinya sangat kecil. Anda tidak akan melayang atau merasakan perbedaan fisik secara langsung dalam aktivitas sehari-hari.

2. Apa bedanya dengan lubang gravitasi di Samudra Hindia?

Lubang gravitasi di Samudra Hindia (IOGL) adalah yang terluas secara area, namun lubang di Antartika dianggap yang paling kuat secara intensitas jika dihitung berdasarkan model non-hidrostatis Bumi.

3. Apakah ini penyebab utama kenaikan air laut?

Bukan. Penyebab utama kenaikan air laut saat ini adalah pencairan es akibat pemanasan global. Namun, lubang gravitasi memengaruhi distribusi air laut tersebut, yang krusial bagi prediksi pemetaan pesisir di masa depan.

Kesimpulan

Penemuan bahwa lubang gravitasi di Antartika terus menguat memberikan perspektif baru bagi ilmu iklim.

Ternyata, apa yang terjadi ribuan kilometer di bawah kaki kita memiliki dampak langsung terhadap tinggi permukaan laut dan stabilitas es di permukaan. Dinamika Bumi adalah sistem yang saling terhubung, dari inti panas hingga samudra yang dingin.

Elemen Detail
Lokasi Utama Laut Ross, Antartika
Usia Fenomena ~70 Juta Tahun
Penyebab Pergerakan Mantel & Tektonik
Dampak Pergeseran Distribusi Air Laut

(Scientific Reports (2026), CNBC, University of Florida Geophysics Research/Z-10)