Agresi AS-Israel Picu Harga Pupuk Melejit, Petani Deli Serdang Menjerit
Bayang-bayang krisis pangan mulai menghantui meja makan masyarakat. Agresi militer AS-Israel ke Iran kini bukan sekadar berita mancanegara, melainkan ancaman nyata bagi kantong para petani di Deli Serdang, Sumatra Utara.
Ekonom Universitas Islam Sumatera Utara (UISU) Gunawan Benjamin melihat rantai pasok global yang terganggu telah memicu lonjakan harga bahan baku pupuk ke titik yang mengkhawatirkan. Berdasarkan data tradingeconomics.com, kata dia, harga sulfur, komponen vital pupuk, telah meroket hingga mencetak rekor tertinggi di level CNY 5.383 per ton.
"Kenaikan bahan baku ini memicu kekhawatiran melemahnya kemampuan bercocok tanam petani. Jika produksi turun, kita (Sumut) akan menghadapi ancaman inflasi harga pangan," ujarnya, di Medan, Jumat (27/3).
Menurut dia, kenaikan harga ini bukan lagi prediksi, tetapi bahkan sudah menjadi beban harian. Dalam dua pekan terakhir, harga pupuk non-subsidi di wilayah Deli Serdang terus mendaki.
Berdasarkan pantauan Gunawan, harga pupuk jenis Urea non-subsidi kini bertengger di angka Rp450.000 per sak, naik dari harga sebelumnya Rp400.000. Tidak hanya itu, pupuk KCL turut merangkak naik ke Rp430.000 per sak.
Bahkan, kebutuhan penunjang seperti plastik mulsa pun tidak mau kalah, kini dibanderol Rp280.000 per gulung dari sebelumnya Rp250.000. Ironisnya, di saat biaya produksi membengkak, harga jual hasil tani justru terjun bebas.
Dia mengatakan, petani cabai di Deli Serdang tengah "berdarah-darah" karena harga jual jauh di bawah Harga Pokok Produksi (HPP). Yang mana angka HPP ideal bagi petani adalah sebesar Rp15.500 per kg, tetapi harga h jual hanya sebesar Rp7.000-Rp10.000 per kilogram.
Padahal, harga konsumen yang ideal dengan HPP sebesar itu minimal Rp27.000 per kilogram agar modal tani tetap terjaga.
Data Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS), lanjut Gunawan, menunjukkan rata-rata harga cabai merah di Medan dan sekitarnya berada di angka Rp19.800 per kilogram. Di beberapa pasar tradisional, seperti Tanjung Morawa, harga bahkan hanya menyentuh Rp16.000 per kilogram.
Kondisi ini dinilai menciptakan lingkaran setan. Petani cabai, yang mayoritas bergantung pada pupuk non-subsidi, terancam kehilangan modal untuk musim tanam berikutnya.
"Masalah harga pupuk yang naik ditambah gangguan modal akan menjadi isu utama bagi semua petani, tidak hanya cabai. Dampak perang ini akan sangat dirasakan saat mereka mulai mengolah lahan kembali," tambahnya.
Gunawan menegaskan perlunya intervensi pemerintah untuk memitigasi kendala di lapangan. Tanpa langkah konkret, penurunan produksi bukan lagi sekadar potensi, tetapi akan menjadi kepastian yang akan memukul daya beli masyarakat luas. (H-2)