Prakiraan Cuaca NTT 22-24 Maret 2026 :  Waspada Hujan Lebat dan Angin Kencang 


Penulis:  Palce Amalo - 22 March 2026, 14:20 WIB
Dok.MI

BADAN Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan prakiraan cuaca Nusa Tenggara Timur atau NTT hari ini  22-24 Maret 2026. Sejumlah daerah diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi hujan sedang hingga lebat yang disertai angin kencang serta banjir pesisir (rob).

Kepala Stasiun Meteorologi El Tari Kupang, Sti Nenot’ek, mengatakan kondisi cuaca di NTT dalam beberapa hari ke depan dipengaruhi dinamika atmosfer yang cukup signifikan sehingga berpotensi meningkatkan curah hujan di berbagai wilayah.
“Peningkatan curah hujan ini dipengaruhi oleh menguatnya Monsun Asia, aktivitas Madden-Julian Oscillation (MJO), serta gelombang atmosfer yang aktif di wilayah NTT,” ujarnya, Minggu (22/3).

Berdasarkan data BMKG, pada 22 Maret 2026, wilayah seperti Timor Tengah Selatan (TTS), Malaka, Ende, Sabu Raijua, dan Flores Timur berstatus waspada hujan sedang hingga lebat. Sementara itu, Alor, Rote Ndao, Kota Kupang, dan Kabupaten Kupang masuk kategori siaga karena berpotensi mengalami hujan lebat hingga sangat lebat.

Selanjutnya, memasuki 23 Maret 2026, wilayah yang berstatus waspada meluas meliputi TTS, TTU, Malaka, Flores Timur, Sumba Timur, dan Sabu Raijua. Adapun status siaga masih berlaku untuk Alor, Rote Ndao, Kota Kupang, dan Kabupaten Kupang.

Sedangkan pada 24 Maret 2026, potensi hujan sedang hingga lebat diperkirakan terjadi di Kabupaten Kupang dan Kota Kupang.

Selain hujan, BMKG juga mengingatkan potensi angin kencang yang berpeluang terjadi di sejumlah wilayah seperti Sabu Raijua, Rote Ndao, Kabupaten Kupang, Malaka, dan TTS.

Sti Nenot’ek menjelaskan, keberadaan Siklon Tropis Narelle di pesisir utara Australia turut memengaruhi kondisi cuaca di NTT dengan memicu terbentuknya daerah pertemuan dan perlambatan angin. “Kondisi ini meningkatkan pertumbuhan awan hujan, sehingga berpotensi terjadi hujan dengan intensitas sedang hingga sangat lebat yang dapat disertai petir dan angin kencang,” jelasnya.

BMKG juga mengingatkan potensi banjir pesisir (rob) yang dapat terjadi di sejumlah wilayah pesisir NTT pada periode yang sama. Fenomena ini dipicu oleh fase Bulan Baru dan fase perigee yang berpotensi meningkatkan ketinggian air laut maksimum. “Kondisi tersebut dapat menyebabkan naiknya permukaan air laut ke daratan pesisir, sehingga masyarakat di wilayah pantai perlu meningkatkan kewaspadaan,” tambahnya.

Wilayah yang berpotensi terdampak banjir rob meliputi pesisir Pulau Flores-Alor, Sumba, Sabu Raijua, serta Timor-Rote. Dampaknya dapat mengganggu aktivitas masyarakat di kawasan pelabuhan, permukiman pesisir, hingga sektor perikanan dan tambak garam.

Selain itu, kelembapan udara yang cukup tinggi pada lapisan 850 hingga 500 milibar, yakni berkisar antara 50-90 persen, turut mendukung pertumbuhan awan hujan secara signifikan di wilayah NTT.

BMKG mengimbau masyarakat untuk mewaspadai potensi bencana hidrometeorologi seperti banjir, tanah longsor, serta pohon tumbang akibat hujan lebat dan angin kencang, termasuk dampak banjir rob di wilayah pesisir.

“Kami mengimbau masyarakat untuk tetap waspada, memantau informasi cuaca terkini dari BMKG, serta menghindari aktivitas di daerah rawan bencana saat kondisi cuaca ekstrem,” ujarnya. (H-4)