Bibit Siklon Berganti, Cuaca Ekstrem Ancam NTT
PERGANTIAN bibit siklon tropis di wilayah selatan Indonesia berpotensi memicu cuaca ekstrem di Nusa Tenggara Timur (NTT).
Bibit Siklon Tropis 97S yang sejak 16 Januari 2026 tumbuh dan berkembang di wilayah utara Australia kini telah melemah dan dinyatakan tidak aktif.
Namun, kemunculan Bibit Siklon Tropis 91S di selatan Nusa Tenggara Barat (NTB) memberikan dampak tidak langsung terhadap kondisi cuaca di wilayah NTT, khususnya bagian barat.
Kepala Stasiun Meteorologi El Tari Kupang, Sti Nentot'ek, mengatakan pengaruh Bibit Siklon Tropis 91S telah meningkatkan aktivitas konvektif dan curah hujan di sejumlah wilayah.
Berdasarkan hasil pengamatan BMKG, curah hujan yang tercatat di Stasiun Meteorologi Ruteng selama 24 jam, mulai 21 Januari 2026 pukul 07.00 hingga 22 Januari 2026 pukul 07.00 Wita, mencapai 134 milimeter, yang termasuk dalam kategori hujan sangat lebat.
“Bibit Siklon 97S telah melemah dan tidak lagi menunjukkan potensi berkembang menjadi siklon tropis. Namun, sejak kemarin muncul Bibit Siklon 91S di selatan NTB yang berdampak tidak langsung terhadap cuaca di wilayah NTT, terutama NTT bagian barat,” ujar Sti Nentot'ek, Kamis (22/1).
Berdasarkan pembaruan Tropical Cyclone Warning Center (TCWC) Jakarta pada 22 Januari 2026 pukul 07.00 WIB, Bibit Siklon Tropis 91S mulai terbentuk pada 21 Januari 2026 pukul 13.00 WIB dan saat ini berada di sekitar Samudra Hindia selatan Nusa Tenggara Barat.
Bibit siklon ini memiliki peluang sedang untuk berkembang menjadi siklon tropis dan diperkirakan bergerak perlahan ke arah selatan hingga tenggara dalam 24 jam ke depan.
Selain hujan lebat, BMKG juga mengingatkan potensi angin kencang yang dapat terjadi di wilayah Nusa Tenggara Barat, Bali, serta Nusa Tenggara Timur, khususnya Pulau Sumba. Kondisi tersebut berpotensi menimbulkan dampak lanjutan seperti pohon tumbang, gangguan transportasi, serta kerusakan infrastruktur ringan.
Di sektor kelautan, BMKG mencatat potensi gelombang laut tinggi di sejumlah perairan. Tinggi gelombang 1,25 hingga 2,5 meter berpeluang terjadi di Laut Bali, Laut Flores, Selat Bali, dan Selat Lombok.
Sementara gelombang 2,5 hingga 4 meter diperkirakan terjadi di Perairan selatan Jawa Tengah hingga NTT, Laut Sawu, Samudra Hindia selatan Jawa Tengah hingga NTT, serta Laut Arafuru bagian barat.
Sti Nentot'ek mengimbau masyarakat, khususnya yang tinggal di wilayah rawan bencana hidrometeorologi, untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi banjir, tanah longsor, angin kencang, serta gelombang tinggi. Masyarakat juga diminta untuk terus memantau informasi cuaca terkini yang disampaikan secara resmi oleh BMKG. (PO/E-4)