Truk Sumbu 3 Dilarang saat Momen Lebaran, Istri Para Sopir Bingung Suami tak Bisa Kerja
MENDENGAR adanya kebijakan Pemerintah yang melarang truk sumbu 3 beroperasi pada momen Lebaran selama 17 hari, istri para sopir truk merasa kaget dan bingung memikirkan keuangan keluarga. Karenanya, mereka berharap pemerintah tidak hanya memperhatikan kegembiraan masyarakat yang akan mudik Lebaran saja, tapi juga penderitaan yang mereka alami akibat kebijakan tersebut.
Saat ditemui di rumah kontrakannya di Cigombong, Kabupaten Bogor, Teh Maya, istri seorang sopir truk sumbu 3 di sebuah perusahaan air minum, sedang duduk di teras sambil menggendong anak bungsunya yang masih bayi. Mengetahui adanya kebijakan pelarangan truk sumbu 3 selama 17 hari, mulai tanggal 13 hingga 29 Maret, wajah cerianya berubah menjadi sedih.
“Kok begitu ya. Kalau dilarang-larang begitu, suami saya kan gak bisa kerja dan otomatis nggak ada penghasilan. Apalagi ini mau Lebaran ya,” ujarnya
Dia bercerita bahwa satu-satunya penghasilan keluarganya hanya berasal dari gaji suami yang bekerja sebagai sopir truk. Menurutnya, suaminya hanya bisa bekerja sebagai sopir karena memang tidak memiliki keahlian di bidang lain.
“Apalagi saya hanya sebagai ibu rumah tangga. Saya hanya mengandalkan penghasilan suami yang sudah bekerja sebagai sopir truk dari tahun 2010 lalu,” tuturnya.
Dia lantas menuturkan bagaimana perjuangan suaminya untuk menghidupi dirinya dan dua anaknya selama ini hanya dengan mengandalkan sebagai pekerja lepas sebagai sopir truk. “Tapi saya selalu bersyukur suami masih diberikan pekerjaan meski penghasilannya tidak banyak dan masih cukup untuk membiayai kehidupan kami sekeluarga. Kami bisa membayar uang kontrakan dan juga membeli semua kebutuhan anak kami yang masih bayi dan yang masih sekolah di SD,” katanya.
Sebagai pekerja lepas, dia menuturkan penghasilan suaminya tidak menentu. Penghasilannya tergantung pada lancar tidaknya pekerjaan yang didapat.
“Kalau misalkan kerja atau dapat orderan, dia baru dapat uang. Tapi, kalau nggak kerja, ya nggak dapat uang. Alhamdulillahnya, suami saya jarang nggak dapat orderan meskipun hasilnya tidak seberapa. Meskipun akhir-akhir ini kerjanya sedikit menurun. Yang penting bisa bayar kontrakan rumah, makan serta beli pampers dan susu anak,” ucapnya penuh haru.
Tapi, kalau Pemerintah melarang truk sumbu 3 tidak boleh beroperasi selama 17 hari menjelang Lebaran nanti, Teh Maya mengatakan tidak tahu lagi bagaimana keluarganya menjalaninya.
“Suami saya berarti tidak kerja selama 17 hari. Lama banget ya. Bagaimana nasib kami dan anak-anak nantinya. Apalagi kami tidak punya tabungan sama sekali karena gaji suami juga hanya sedikit dan cukup untuk kebutuhan sehari-harinya saja. Makanya saya selalu berdoa agar suami saya dijauhkan dari sakit supaya bisa bekerja. Kalau sakit, otomatis kan suami kan tidak bisa bekerja dan tidak dapat cari uang lagi,” ujarnya dengan mata berkaca-kaca.
Lebih lanjut ia menuturkan bahwa jika ada tanggal merah saja, lanjutnya, suaminya sudah bingung karena tidak ada orderan. Apalagi selama 17 hari.
“Bagaimana kami harus membayar kontrakan dan makan serta membiayai kebutuhan anak-anak kami. Belum lagi kalau misalkan sakit, darimana untuk uang obatnya,” katanya dengan mata berkaca-kaca.
“Jangan atuh ada kebijakan yang membuat suami saya tidak bisa kerja. Lihatlah kehidupan kami masyarakat yang di bawah ini. Saya hanya ingin pekerjaan suami saya tidak dihambat. Kalau suami saya tidak bekerja, kami mau makan apa? Apalagi ini mau Lebaran di mana kebutuhan akan semakin bertambah. Kami juga ingin saat Lebaran nanti bisa membelikan anak-anak baju baru seperti yang lain,” keluhnya.
Hal serupa juga dilontarkan Teh Herlina yang juga tinggal di daerah yang sama. Suami ibu 3 anak yang masih kecil-kecil ini, di mana dua anaknya masih SD dan satu masih berumur 5 tahun, juga bekerja sebagai sopir harian lepas truk sumbu 3 di sebuah perusahaan ekspedisi. Dia juga merasa kaget mendengar adanya kebijakan Pemerintah yang akan membuat suaminya tidak bisa bekerja selama 17 hari menjelang Lebaran nanti.
“Otomatis nggak ada uang pemasukan nanti suami saya. Terus kami mau makan apa nanti? Kami cuma masyarakat bawah yang ingin bekerja dan itupun hanya cukup untuk membiayai hidup sehari-hari. Tapi, kenapa hidup kami diperlakukan seperti ini? Apalagi kami juga butuh biaya untuk keperluan Lebaran nanti,” ucapnya
Padahal, lanjutnya, untuk mencari nafkah untuk kebutuhan keluarga sehari-hari saja suaminya sudah penuh dengan perjuangan. “Kalau telat antar barang saja suami saya terkena denda. Begitu juga kalau ada barang yang hilang atau rusak, suami saya juga yang harus membayar. Pekerjaan suami saya sudah berat, kenapa kok tega-teganya dilarang sampai 17 hari seperti itu,” cetusnya dengan perasaan haru.
“Kalau bisa sih, sebagai istri sopir saya memohon kalau bisa waktunya jangan sampai 17 harilah, kalau bisa 3 hari Lebaran saja. Karena, gaji suami saya kan harian, bukan UMR seperti karyawan-karyawan,” pintanya berharap sambil berlinang air mata.
Meski penghasilan suaminya tidak besar, namun dia mengatakan sudah bersyukur dengan pekerjaan suaminya sebagai seorang sopir truk.
“Saya ikhlas ya, sekalipun pekerjaan suami saya resikonya besar. Jadi, saya berharap kalau bisa suami saya masih bisa bekerja terus untuk membiayai saya dan anak-anak. Itu saja yang saya mohonkan agar kebutuhan hidup kami bisa terpenuhi,” tukas Teh Herlina yang juga berprofesi sebagai ibu rumah tangga ini.
Gambaran kesedihan juga terlihat di wajah istri sopir truk ekspedisi sumbu 3 lainnya, Teh Ida Sri Herawati yang juga tinggal di sekitaran daerah Cigombong. Dia juga mengeluhkan lamanya waktu pelarangan beroperasinya truk sumbu 3 itu menjelang Lebarang nanti.
“Aduh, itu lama banget ya. Apalagi sudah mau Lebaran. Dapur kita kan harus ngebul juga. Apalagi ada tanggungan ibu saya dan keponakan saya di rumah. Kita kan butuh untuk beli keperluan Lebaran untuk beli ini dan itu juga. Belum lagi untuk keperluan sekolah dan kontrakan anak saya yang sulung yang masih kuliah di Karawang saat ini,” ujar Ibu dua anak ini.
“Jadi, saya berharap mudah-mudahan Pemerintah bisa mengkaji lagi kebijakannya itu. Perhatikanlah juga nasib kami istri-istri sopir ini. Jangan hanya peduli sama masyarakat yang mau mudik saja. Mending kita punya tabungan. Nggak sebulan juga gaji suami sudah habis,” tandasnya dengan nada yang sedikit protes terhadap kebijakan Pemerintah yang melarang truk sumbu 3 ini. (E-4)