187 Suspek, 2 Positif, Makassar Siapkan Imunisasi Massal Waspadai KLB Campak
DINAS Kesehatan Sulawesi Selatan mencatat adanya ancaman serius penyebaran penyakit campak di Kota Makassar sepanjang tahun 2026. Sebanyak 187 kasus suspek dilaporkan, dengan dua di antaranya telah dinyatakan positif campak berdasarkan hasil pemeriksaan laboratorium .
Kepala Dinas Kesehatan Sulawesi Selatan, Evi Mustikawati Arifin, mengungkapkan bahwa ratusan spesimen lainnya masih dalam proses pemeriksaan untuk memastikan diagnosis.
"Tahun 2026, Makassar mencatat 2 kasus positif campak, namun terdapat 187 kasus suspek yang saat ini sedang menunggu hasil pemeriksaan laboratorium," jelasnya.
Yang lebih mengkhawatirkan, Makassar tercatat sebagai salah satu dari 10 kabupaten/kota di Indonesia yang mengalami Kejadian Luar Biasa atau KLB campak selama dua tahun berturut-turut, yakni pada 2025 dan 2026 .
Sebelumnya pada tahun 2025, Kota Makassar mencatat 183 kasus campak, sementara Kabupaten Sinjai juga melaporkan 10 kasus.
Kelompok usia yang paling rentan terhadap serangan campak adalah anak-anak berusia 6 bulan hingga 5 tahun, dengan risiko tertinggi pada usia 9-24 bulan, terutama yang belum mendapatkan imunisasi lengkap .
"Faktor yang memengaruhi penularan campak antara lain status imunisasi, usia, status gizi, kekebalan tubuh, kepadatan hunian, serta mobilitas dan interaksi," papar Evi.
Campak bukanlah penyakit ringan. Infeksi virus Morbillivirus ini sangat menular, bahkan lebih menular dibandingkan influenza atau COVID-19.
Satu orang penderita dapat menularkan ke 12-18 orang lainnya melalui percikan ludah (droplet) saat batuk atau bersin . Virus ini juga mampu bertahan di udara dan permukaan benda hingga dua jam .
Komplikasi campak bisa berakibat fatal, meliputi pneumonia (radang paru) yang menjadi penyebab kematian tersering, diare berat, radang otak (ensefalitis), infeksi telinga tengah, hingga malnutrisi . Pada anak dengan gizi buruk atau gangguan kekebalan, risiko kematian semakin tinggi .
Merespons situasi ini, Dinas Kesehatan Sulsel telah menerbitkan surat edaran kewaspadaan campak kepada seluruh kabupaten/kota. Langkah ini diikuti dengan penguatan layanan kesehatan serta koordinasi lintas daerah .
Makassar dan Sinjai menjadi wilayah prioritas yang disiapkan untuk pelaksanaan Outbreak Response Immunization (ORI) atau imunisasi massal sebagai langkah antisipasi jika terjadi peningkatan kasus lebih lanjut.
Program ini sejalan dengan instruksi Kementerian Kesehatan yang menggencarkan imunisasi kejar serentak di daerah-daerah KLB .
"Kami Dinas Kesehatan sudah berkoordinasi dengan seluruh kabupaten kota mengenai kejadian luar biasa ini," tegas Evi.
Ketersediaan vaksin campak di fasilitas kesehatan dipastikan aman. Program imunisasi rutin terus digencarkan di 24 kabupaten dan kota untuk meningkatkan perlindungan anak.
Di tengah kewaspadaan, Dinas Kesehatan juga menyoroti maraknya informasi keliru di masyarakat terkait penularan campak. Salah satu mitos yang beredar adalah anggapan bahwa campak menular hanya melalui sentuhan atau bahkan karena angin dan air mandi.
"Yang utama adalah kita menyebarluaskan pengetahuan yang benar dan edukasi yang benar mengenai bagaimana penularan campak itu harus kita ketahui secara bersama, bukan yang kayak hoaks dan lain-lain," tegas Evi.
Masyarakat diimbau untuk tidak mudah percaya pada informasi yang tidak jelas sumbernya, terutama yang menentang imunisasi . Pastikan anak mendapatkan imunisasi MR (Measles-Rubella) lengkap sesuai jadwal, yakni pada usia 9 bulan, 18 bulan, dan saat kelas 1 SD .
Jika anak menunjukkan gejala demam tinggi disertai batuk, pilek, mata merah, dan kemudian muncul ruam kemerahan, segera periksakan ke fasilitas kesehatan terdekat. Deteksi dini dan penanganan cepat dapat mencegah komplikasi yang membahayakan jiwa. (H-3)