Inggris Uji Coba Blokir Medsos dan Jam Malam Digital bagi Remaja, Ikuti Jejak Indonesia?
PEMERINTAH Inggris resmi memulai uji coba pembatasan penggunaan media sosial yang melibatkan ratusan remaja di seluruh negeri. Langkah ini mencakup pemblokiran aplikasi sepenuhnya, pemberlakuan jam malam digital, hingga pembatasan durasi akses hanya satu jam per hari.
Eksperimen ini dilakukan beriringan dengan konsultasi publik pemerintah mengenai kemungkinan mengikuti jejak Australia untuk melarang anak di bawah usia 16 tahun mengakses situs media sosial tertentu.
Sekretaris Teknologi Inggris, Liz Kendall, menyatakan langkah ini adalah upaya untuk "menguji berbagai opsi di dunia nyata."
"Uji coba ini akan memberi kami bukti yang diperlukan untuk mengambil langkah selanjutnya, yang didasarkan pada pengalaman langsung dari keluarga-keluarga itu sendiri," ujar Kendall.
Mekanisme Uji Coba: Empat Skenario Berbeda
Uji coba ini melibatkan 300 remaja yang dibagi ke dalam empat kelompok berbeda untuk membandingkan pengalaman mereka:
- Blokir Total: Aplikasi media sosial paling populer dinonaktifkan sepenuhnya (meniru skenario larangan total).
- Jam Malam Digital: Akses aplikasi diblokir pada malam hari, mulai pukul 21.00 hingga 07.00.
- Pembatasan Durasi: Penggunaan aplikasi dibatasi maksimal 60 menit per hari.
- Kelompok Kontrol: Tidak ada perubahan pada kebiasaan akses media sosial.
Peserta akan diwawancarai mengenai dampak pembatasan tersebut terhadap kehidupan keluarga, kualitas tidur, dan tugas sekolah. Pemerintah juga ingin memetakan tantangan praktis, termasuk kemungkinan remaja menemukan cara untuk mengakali sistem pengawasan tersebut.
Dukungan Global dan Suara Kritis
Rencana pembatasan ini mendapatkan dukungan politik yang luas. Selain Inggris, negara-negara lain termasuk Prancis, Spanyol, dan Indonesia juga tengah mempertimbangkan untuk meniru langkah tegas Australia.
Meski demikian, sejumlah ahli bersikap skeptis. Mereka memperingatkan pembatasan ketat bisa dengan mudah diakali atau justru mendorong anak-anak ke sisi internet yang lebih gelap.
Rani Govender dari organisasi perlindungan anak NSPCC menekankan bahwa perusahaan teknologi seharusnya bertanggung jawab membangun sistem keamanan pada setiap perangkat dan platform. "Kegagalan dalam mewujudkan hal ini membuat larangan media sosial bagi usia di bawah 16 tahun menjadi pilihan yang lebih baik daripada status quo saat ini," tegasnya.
Riset Ilmiah Skala Besar
Melengkapi pilot proyek ini, sebuah studi independen berskala besar yang didanai oleh Wellcome Trust juga akan dimulai akhir tahun ini. Penelitian yang dipimpin oleh Prof. Amy Orben dari University of Cambridge ini akan melibatkan 4.000 siswa berusia 12 hingga 15 tahun.
Studi tersebut bertujuan untuk memberikan data berkualitas mengenai dampak pengurangan akses media sosial terhadap tingkat kecemasan, interaksi sosial, hingga masalah perundungan (bullying) di sekolah. Hingga saat ini, pemerintah Inggris melaporkan telah menerima hampir 30.000 tanggapan dari masyarakat terkait konsultasi larangan media sosial ini. (BBC/Z-2)