Perang Iran-Amerika, Donald Trump Tunda Ancaman ke Infrastruktur Listrik
FASILITAS gas di Iran dilaporkan menjadi sasaran serangan selama perang Iran Amerika Serikat dan Israel, di tengah perubahan sikap Presiden AS Donald Trump yang menunda ancaman terhadap infrastruktur listrik Iran.
Media Iran melaporkan pada Selasa (24/3) bahwa serangan yang dikaitkan dengan Israel dan Amerika Serikat menargetkan dua fasilitas gas serta satu jalur pipa, hanya beberapa jam setelah Presiden AS Donald Trump menarik ancamannya untuk menyerang infrastruktur listrik Iran.
"Kami menyaksikan bagian dari serangan berkelanjutan yang dilakukan oleh musuh Zionis dan Amerika, yang menargetkan gedung administrasi gas dan stasiun pengatur tekanan gas di Jalan Kaveh di Isfahan," demikian laporan kantor berita Fars.
Fars menyebut fasilitas di Iran bagian tengah tersebut mengalami "kerusakan sebagian". Namun, laporan itu tidak mencantumkan sumber dan menjadi satu-satunya media Iran yang mengabarkan insiden tersebut.
Selain itu, Fars juga melaporkan adanya serangan terhadap jalur pipa gas di pembangkit listrik Khorramshahr, yang terletak di barat daya Iran.
"Sebuah proyektil menghantam area di luar stasiun pemrosesan pipa gas Khorramshahr," lapor Fars, mengutip pernyataan gubernur kota yang berbatasan dengan Irak tersebut.
Gubernur menyatakan bahwa infrastruktur tetap beroperasi normal dan tidak ada gangguan terhadap pasokan gas.
Sementara itu, Trump pada Senin (23/3) mengatakan kepada AFP bahwa "segala sesuatunya berjalan sangat baik" dengan Iran. Pernyataan itu disampaikan tidak lama setelah ia mengumumkan adanya pembicaraan dengan Teheran serta jeda lima hari dalam penargetan pembangkit listrik Iran.
Perubahan sikap Trump terjadi hanya beberapa jam sebelum berakhirnya ultimatum dua hari yang sebelumnya ia sampaikan. Dalam ultimatum tersebut, Trump mengancam akan menyerang pembangkit listrik Iran jika Teheran tidak membuka kembali Selat Hormuz.
Namun demikian, media Iran pada Senin melaporkan bahwa tidak ada negosiasi yang sedang berlangsung untuk mengakhiri perang tersebut. (AFP/H-4)