Stabilitas Selat Hormuz Harga Mati bagi Jepang


Penulis: Khoerun Nadif Rahmat - 24 March 2026, 15:55 WIB
Antara/Xinhua

JEPANG meningkatkan upaya diplomatik untuk menjaga stabilitas Selat Hormuz, jalur vital impor minyak mentah yang menjadi penopang utama kebutuhan energi nasional.

Pemerintah Jepang menaruh perhatian besar terhadap kondisi di Selat Hormuz yang menjadi rute utama pasokan energi dari Timur Tengah.

Perdana Menteri Sanae Takaichi menegaskan komitmen negaranya untuk terus bekerja sama dengan komunitas internasional guna meredakan ketegangan di kawasan tersebut.

"Kami terus bekerja sama dengan komunitas internasional dan akan mengerahkan setiap upaya diplomatik yang memungkinkan," ujarnya sebagaimana dikutip dari New Straits Times.

Situasi ini menjadi krusial bagi Jepang yang bergantung lebih dari 90 persen impor minyak mentah dari Timur Tengah, dengan sebagian besar pengiriman melewati Selat Hormuz.

Ketegangan meningkat setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengeluarkan ultimatum agar Iran membuka kembali jalur tersebut.

Ancaman tersebut diikuti pernyataan bahwa Amerika Serikat akan "menghancurkan dan melenyapkan" pembangkit listrik Iran jika tuntutan tidak dipenuhi.

Merespons hal itu, pihak Iran menyatakan akan menutup total Selat Hormuz apabila serangan benar-benar terjadi, serta mengancam menargetkan infrastruktur energi di Israel dan fasilitas terkait Amerika Serikat di kawasan Asia Barat.

Kondisi ini mempertegas pentingnya stabilitas Selat Hormuz bagi Jepang, sekaligus mendorong Tokyo untuk terus mengintensifkan jalur diplomasi guna menjaga kelancaran pasokan energi. (Ndf/I-1)