Akibat Perang Timur Tengah, Ekonomi Global Berada di Bawah Ancaman Besar
KRISIS energi global akibat perang yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran kian mengkhawatirkan setelah terganggunya jalur distribusi minyak di Selat Hormuz.
Kondisi itu memicu respons darurat dari sejumlah negara, mulai dari pelepasan cadangan strategis hingga pengalihan sumber energi demi menjaga stabilitas domestik.
Perdana Menteri Jepang, Sanae Takaichi, menyatakan bahwa pihaknya akan kembali melepas sebagian cadangan minyak strategis serta memanfaatkan stok bersama yang dikelola negara-negara produsen di Jepang.
Langkah itu diambil mengingat Jepang sangat bergantung pada Timur Tengah untuk 95 persen impor minyaknya.
"Jepang mulai melepaskan cadangan minyak strategisnya, yang merupakan salah satu yang terbesar di dunia," ujar Takaichi sebagaimana dikutip dari AFP.
Di Asia Tenggara, Filipina terpaksa beralih kembali ke penggunaan batu bara akibat melonjaknya harga gas alam cair (LNG).
Menteri Energi Filipina, Sharon Garin, menyebut kebijakan ini sebagai langkah darurat yang akan dimulai pada 1 April mendatang.
"Kami telah berbicara dengan perusahaan pembangkit listrik tenaga batu bara untuk memeriksa seberapa besar mereka dapat meningkatkan produksi," kata Garin.
Situasi serupa terjadi di Ukraina, di mana Presiden Volodymyr Zelensky menginstruksikan pemerintah untuk menjamin pasokan solar yang stabil.
Harga solar di Ukraina melonjak hampir 25 persen sejak pecahnya konflik di Timur Tengah. Kondisi ini memperparah kerentanan energi Kyiv yang kapasitas pengilangannya telah hancur akibat invasi Rusia sejak 2022.
Meski demikian, pasar saham di Asia sempat mencatatkan zona hijau pada Selasa pagi. Indeks di Tokyo, Hong Kong, Shanghai, hingga Manila menguat setelah Presiden AS Donald Trump menunda serangan ke situs energi Iran dan mengklaim adanya pembicaraan positif dengan pihak Teheran.
Namun, penguatan tersebut tertahan setelah media Iran membantah adanya negosiasi antara Teheran dan Washington, yang kembali mengerek harga minyak mentah.
Direktur Eksekutif Badan Energi Internasional (IEA), Fatih Birol, memperingatkan bahwa ekonomi global berada di bawah "ancaman besar" akibat krisis energi ini. Birol mencatat sedikitnya 40 aset energi di sembilan negara Timur Tengah mengalami kerusakan parah akibat perang.
"Tidak akan ada negara yang kebal," tegas Birol.
Sementara itu, CEO Chevron Mike Wirth mengingatkan bahwa pasar belum sepenuhnya memperhitungkan dampak jangka panjang dari blokade Selat Hormuz.
"Khususnya Asia yang menghadapi kekhawatiran nyata mengenai pasokan," ujar Wirth.
Senada dengan itu, bos TotalEnergies Patrick Pouyanne memprediksi harga LNG akan tetap "sangat tinggi" hingga musim panas jika jalur pelayaran vital tersebut tidak segera dibuka kembali.
Di lain pihak, pemerintah Tiongkok mulai mengintervensi pasar dengan membatasi kenaikan harga eceran bahan bakar.
Komisi Pembangunan dan Reformasi Nasional Tiongkok menaikkan harga maksimum bensin sebesar 1.160 yuan atau sekitar Rp2,85 juta dan solar sebesar 1.115 yuan atau sekitar Rp2,74 juta per metrik ton untuk meredam dampak inflasi energi bagi konsumen di dalam negeri. (Ndf/I-1)